"Saya nikahkan Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat Shalat dibayar tunai..."
Saya terima nikahnya Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat shalat dibayar tunai... bagaimana saksi?? sah...sah.. SAH. Alhamdulillah.
Sangat jelas kalimat yang diucapkan penghulu dan kemudian diulangi oleh Rio dengan tegas. Detik itu menjadi saat terakhir bagi kesendirian gadis malang itu. Ia kini sah menjadi istri Rio, tumpahlah tangisannya yang susah payah ia redam. Air matanya tumpah ketika bibir Rio menyentuh keningnya. Semua orang yang berada di sana merasa senang dan menunjukan senyum terindahnya. Berdirilah Dian dari duduknya lalu mendekati dan tersungkur dipangkuan Bu Idawati yaitu ibunda Rio yang juga menangis terharu. Keduanya saling peluk, kemudian ia kembali menangis ketika melihat senyum pak Daman mertua yang sangat memperhatikannya selama ini. Paman Dino pun terlihat haru ketika Dian mendekatinya dengan linangan airmata. Paman tak kuasa menahan airmatanya karena kebahagiaan keponakan yang telah ia rawat sejak kecil itu bercampur rasa syukurnya dimana keadaan seluruh keluarganya kini telah berubah.
Keharuan mereda ketika Cinta mendekati Didan dan mengajaknya bercanda dengan memanggilnya dengan sebutan mantan anak malang. Ia peluk sahabatnya itu, ucapan terimakasih serta syukur tak hentinya keluar dari bibirnya. Tuhan Maha Mengerti Ia cintai aku tak terhingga lipatnya dibanding cinta manusia sedunia ini kepadanya.
Ya Allah terimakasih untuk semua yang telah engkau berikan.
Selesailah acara akad nikah yang berlangsung haru dan penuh hikmah. Semua mulai kembali dengan kesibukan masing-masing dimana sore harinya akan dilangsungkan acara resepsi pernikahan disebuah gedung yang tidak begitu jauh dari rumah Rio yang kini juga menjadi rumah milik Dian. Terlihat kesibukan masing-masing yang ingin acara itu meriah dan berkesan bagi semua undangan yang hadir nantinya. Dian keluar dari kamar setelah ia melepaskan keharuannya, terlihat seperti ada yang ia cari. Lalu dengan penuh kebingungan Cinta bertanya apa yang dicari sahabatnya itu. Rupanya Dian mencari kedua sahabatnya yang sejak pagi belum sempat ia temui, yaitu Vino dan Candra. Dian dan Cinta menuju beranda rumah disana ia melihat Vino bersama anak dan istrinya. Namun ia tidak menemukan Candra di sana. Dian sangat kecewa dimana orang yang juga mencintainya tidak melihat kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ingin sekali memperlihatkan kebahagiaannya hari itu dengan sahabat Kecilnya yaitu Candra meski tidak mungkin memberikan jiwa dan raganya untuk menjadi miliknya. Tidak lama kemudian Candra muncul dari balik pagar mendatangi mereka yang sedang duduk menantinya kembali. Sebenarnya ia sudah berada dari pagi dirumah itu namun orang sepertinya tidaklah betah berada di dalam rumah apa lagi dalam suasana ramai seperti tadi pagi. Terlihat keceriaan diwajah Candra, sapaan yang begitu hangat ia layangkan untuk mereka yang juga membalas sapaan dengan wajah yang lebih gembira lagi karena melihat sahabat mereka akhirnya bisa tersenyum lepas seperti yang mereka saksikan siang itu.
Dua minggu lamanya sepasang suami istri yang berbahagia itu menghabiskan waktu di pulau impian. Di pulau ini mereka melepas segala kegundahan, keraguan dan kerinduan dan benar-benar menjadi satu dalam subuah cerita dimana terdapat lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Tak terhitung berapa banyak judul lagu yang mereka nyanyikan bersama serta berapa syair yang Rio bisikan di telinga istrinya. Lagu serta syair itu menjadi sebuah pendahuluan bagi kisah yang akan mereka jalani sampai nanti.
Pesawat yang mereka tumpangi telah bersandar di tempat dimana dua minggu lalu tempat itu yang mengatar mereka ke alam mimpi. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah taksi yang telah siap mengantar kembali menuju rumah bahagia.
Keceriaan menghiasi wajah supir taksi yang turut bahagia menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru. Selama dalam perjalanan menuju rumah terdengar sanjungan-sanjungan keluar dari kedua pasangan itu. Tiba-tiba jeritan sangat keras membuat Rio dan Dian terkejut, Dian merasa tubuhnya sangat lemah tak berdaya ia berusaha meraih dan menggenggam tangan suaminya. Ketika tangannya berhasil meraih tangan Rio dan menggenggamnya erat terlihat bahwa Dian sangat mengawatirkannya. Semua menghitam dan Dian menuju ke alam bawah sadarnya. Taksi yang mereka tumpangi menabrak truk besar ketika melewati sebuah tikungan tajam.
Dian berusaha keluar dari alam mimpi. Ketika tersadar ia melihat orang-orang terdekatnya telah berda di sana. Mengetahui Dian telah terbangun maka Paman Dino, Pak Daman, Idawati, Cinta, Vino dan Candra segera mendekati Dian dengan maksud memberi semangat untuk tetap bertahan. Dian memandangi mereka satu persatu sepertinya ada yang sedang ia cari. Merasa ada yang kurang dengan kekhawatiran ia menanyakan keadaan suaminya yang ia harap tidak terjadi apa-apa. Tak sepatah katapun yang keluar dari keenam orang itu. Dian mulai meneteskan airmatanya setelah memahami jawaban yang ia rangkum dari airmata keenam orang yang ia sayangi itu.
Dian merasa tubuhnya semakin tak berdaya dan dingin menerpa. Diiringi derai airmata yang seakan berlomba ia memaksa lidahnya untuk melantunkan senuah puisi yang berasal dari hati dan belum sempat ia bisikan di telinga suami yang sangat ia cintai.
Demi Tuhan
Jiwaku bergemuruh
Tak bisa kuhapus engkau
Tak akan kutinggalkan kisahmu
Kuabaikan nafasku
Bagimu
Demi Tuhan
Aku rendah
Lemah
Namun tak goyah
Tiada lupa
Dan selalu ada rasa
Demi Tuhan
Bagi engkau dan jiwaku
Diakhir puisi ia teteskan airmata yang terakhir lalu Dian tersenyum manis sekali. Ia pejamkan mata dan tertidur lelap untuk selamanya.
Thengkyu....
Saya terima nikahnya Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat shalat dibayar tunai... bagaimana saksi?? sah...sah.. SAH. Alhamdulillah.
Sangat jelas kalimat yang diucapkan penghulu dan kemudian diulangi oleh Rio dengan tegas. Detik itu menjadi saat terakhir bagi kesendirian gadis malang itu. Ia kini sah menjadi istri Rio, tumpahlah tangisannya yang susah payah ia redam. Air matanya tumpah ketika bibir Rio menyentuh keningnya. Semua orang yang berada di sana merasa senang dan menunjukan senyum terindahnya. Berdirilah Dian dari duduknya lalu mendekati dan tersungkur dipangkuan Bu Idawati yaitu ibunda Rio yang juga menangis terharu. Keduanya saling peluk, kemudian ia kembali menangis ketika melihat senyum pak Daman mertua yang sangat memperhatikannya selama ini. Paman Dino pun terlihat haru ketika Dian mendekatinya dengan linangan airmata. Paman tak kuasa menahan airmatanya karena kebahagiaan keponakan yang telah ia rawat sejak kecil itu bercampur rasa syukurnya dimana keadaan seluruh keluarganya kini telah berubah.
Keharuan mereda ketika Cinta mendekati Didan dan mengajaknya bercanda dengan memanggilnya dengan sebutan mantan anak malang. Ia peluk sahabatnya itu, ucapan terimakasih serta syukur tak hentinya keluar dari bibirnya. Tuhan Maha Mengerti Ia cintai aku tak terhingga lipatnya dibanding cinta manusia sedunia ini kepadanya.
Ya Allah terimakasih untuk semua yang telah engkau berikan.
Selesailah acara akad nikah yang berlangsung haru dan penuh hikmah. Semua mulai kembali dengan kesibukan masing-masing dimana sore harinya akan dilangsungkan acara resepsi pernikahan disebuah gedung yang tidak begitu jauh dari rumah Rio yang kini juga menjadi rumah milik Dian. Terlihat kesibukan masing-masing yang ingin acara itu meriah dan berkesan bagi semua undangan yang hadir nantinya. Dian keluar dari kamar setelah ia melepaskan keharuannya, terlihat seperti ada yang ia cari. Lalu dengan penuh kebingungan Cinta bertanya apa yang dicari sahabatnya itu. Rupanya Dian mencari kedua sahabatnya yang sejak pagi belum sempat ia temui, yaitu Vino dan Candra. Dian dan Cinta menuju beranda rumah disana ia melihat Vino bersama anak dan istrinya. Namun ia tidak menemukan Candra di sana. Dian sangat kecewa dimana orang yang juga mencintainya tidak melihat kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ingin sekali memperlihatkan kebahagiaannya hari itu dengan sahabat Kecilnya yaitu Candra meski tidak mungkin memberikan jiwa dan raganya untuk menjadi miliknya. Tidak lama kemudian Candra muncul dari balik pagar mendatangi mereka yang sedang duduk menantinya kembali. Sebenarnya ia sudah berada dari pagi dirumah itu namun orang sepertinya tidaklah betah berada di dalam rumah apa lagi dalam suasana ramai seperti tadi pagi. Terlihat keceriaan diwajah Candra, sapaan yang begitu hangat ia layangkan untuk mereka yang juga membalas sapaan dengan wajah yang lebih gembira lagi karena melihat sahabat mereka akhirnya bisa tersenyum lepas seperti yang mereka saksikan siang itu.
Dua minggu lamanya sepasang suami istri yang berbahagia itu menghabiskan waktu di pulau impian. Di pulau ini mereka melepas segala kegundahan, keraguan dan kerinduan dan benar-benar menjadi satu dalam subuah cerita dimana terdapat lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Tak terhitung berapa banyak judul lagu yang mereka nyanyikan bersama serta berapa syair yang Rio bisikan di telinga istrinya. Lagu serta syair itu menjadi sebuah pendahuluan bagi kisah yang akan mereka jalani sampai nanti.
Pesawat yang mereka tumpangi telah bersandar di tempat dimana dua minggu lalu tempat itu yang mengatar mereka ke alam mimpi. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah taksi yang telah siap mengantar kembali menuju rumah bahagia.
Keceriaan menghiasi wajah supir taksi yang turut bahagia menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru. Selama dalam perjalanan menuju rumah terdengar sanjungan-sanjungan keluar dari kedua pasangan itu. Tiba-tiba jeritan sangat keras membuat Rio dan Dian terkejut, Dian merasa tubuhnya sangat lemah tak berdaya ia berusaha meraih dan menggenggam tangan suaminya. Ketika tangannya berhasil meraih tangan Rio dan menggenggamnya erat terlihat bahwa Dian sangat mengawatirkannya. Semua menghitam dan Dian menuju ke alam bawah sadarnya. Taksi yang mereka tumpangi menabrak truk besar ketika melewati sebuah tikungan tajam.
Dian berusaha keluar dari alam mimpi. Ketika tersadar ia melihat orang-orang terdekatnya telah berda di sana. Mengetahui Dian telah terbangun maka Paman Dino, Pak Daman, Idawati, Cinta, Vino dan Candra segera mendekati Dian dengan maksud memberi semangat untuk tetap bertahan. Dian memandangi mereka satu persatu sepertinya ada yang sedang ia cari. Merasa ada yang kurang dengan kekhawatiran ia menanyakan keadaan suaminya yang ia harap tidak terjadi apa-apa. Tak sepatah katapun yang keluar dari keenam orang itu. Dian mulai meneteskan airmatanya setelah memahami jawaban yang ia rangkum dari airmata keenam orang yang ia sayangi itu.
Dian merasa tubuhnya semakin tak berdaya dan dingin menerpa. Diiringi derai airmata yang seakan berlomba ia memaksa lidahnya untuk melantunkan senuah puisi yang berasal dari hati dan belum sempat ia bisikan di telinga suami yang sangat ia cintai.
Demi Tuhan
Jiwaku bergemuruh
Tak bisa kuhapus engkau
Tak akan kutinggalkan kisahmu
Kuabaikan nafasku
Bagimu
Demi Tuhan
Aku rendah
Lemah
Namun tak goyah
Tiada lupa
Dan selalu ada rasa
Demi Tuhan
Bagi engkau dan jiwaku
Diakhir puisi ia teteskan airmata yang terakhir lalu Dian tersenyum manis sekali. Ia pejamkan mata dan tertidur lelap untuk selamanya.
Thengkyu....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar