Setiap perjuang tentulah memiliki tujuan diantaranya yaitu menginginkan sebuah hasil yang memuaskan, minimal memenuhi target dan apabila melebihi target awal merupakan sebuah bonus atau hadiah yang kita terima. Dalam kehidupan ini suatu perjuangan bisa kukatakan sama seperti perjudian sebab kita tidak mengetahui bagaimana dan sebesar apa hasil yang akan kita peroleh, kita hanya bisa berusaha sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam perjuangan itu. Banyak kisah telah saya dengar atau saya baca yang menceritakan sebuah perjuangan, cerita-cerita itu merupakan kisah yang berakhir dengan bahagia. Kisah ini bisa menjadi sebuah hiburan dan sebagai motivasi bagi penikmat cerita tersebut.
Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang perjuangan yang diakhiri dengan kebahagiaan.
Kisah ini saya tulis untuk diri saya sendiri.
Menangisi Buah Mangga.
Aku adalah seorang anak kecil yang bisa dikatakan masih lugu dan bodoh. Usiaku pada waktu itu baru sepuluh tahun. Disuatu sore sepulang dari sekolah aku melihat seorang anak laki-laki seumuran denganku sedang bersama keempat temannya berjalan menuju sebuah toko di seberang jalan tempatku memperhatikan mereka. Kelima anak tersebut terlihat begitu ceria dengan langkah serentak menuju toko yang ternyata toko tersebut adalah toko buah. Tidak lama kumudian mereka kembali terlihat setelah beberapa menit pintu kaca dan susunan buah-buah menghalangi pandanganku. Terlihat seorang dari mereka membawa sebuah keranjang yang tentunya berisi buah yang mereka beli dari toko itu.
Timbul rasa iri melihat mereka. Karena aku takut timbul niat yang tidak baik terhadap mereka aku melangkahkan kakiku melanjutkan perjalananku menuju rumah.
Sesampainya di rumah pikiranku masih saja teringat tentang kelima anak tadi. Sepertinya aku sangat ingin merasakan seperti apa rasanya buah. Maklum rumahku tidak memiliki halaman yang cukup untuk menanam buah-buahan. Keluarlah aku dari rumah lalu berdiri di depan pintu terlihat sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan masjid. Terlintas dalam pikiranku untuk menanam pohon mangga di halaman rumahku yang sangatlah sempit. Setelah kuperkirakan ternyata cukup untuk menanam pohon mangga walau hanya satu pohon. Pergilah aku menemui ibuku yang sedang memasak di dapur. Lalu aku bertanya kepada ibu mengenai pohon mangga mulai dari cara menanam, perawatan, berapa lama tubuhnya serta bagaimana rasa buah mangga itu sendri. Ibuku tersenyum dan menjelaskan dengan lengkap dan semua yang ibu katakan bisa kuterima dan kuingat-ingat. Tanpa menunggu lama aku bergegas mencari bibit mangga untuk kutanam di rumahku. Aku berkeliling desa berjalan dari rumah ke rumah sambil memperhatikan pohon mangga yang aku temui di sepanjang jalan. Banyak sekali pohon mangga yang kutemui dan semua sama saja. Setelah kupikir-pikir kalau ada tempat kumeminta bibit mangga yang dekat dari rumah kenapa harus susah payah keliling desa. Saat aku sedang memperhatikan pohon mangga di halaman masjid yang berada tidak begitu jauh dari rumahku ibu bertanya apakah sudah mandapatkan pohon mangga yang akan aku tanam dihalaman rumah. sudah bu, pohon mangga yang di depan masjid itu, jawab ku. Ibu bertanya lagi bagaimana dengan pohon mangga yang sudah kamu lihat di rumah tetangga kita. Apa tidak ada yang baik. Bukan begitu bu, tegasku. Pohon mangga yang kutemui semua baik, jenisnya pun sama saja. Aku hanya ingin meminta bibit dari pohon yang ada di depan masjid, selain tempatnya tidak jauh aku juga tahu sejarah pohon itu. Bahkan tinggi kami pernah sama. Lalu ibu menutup perbincangan kami dengan sebuah pesan “Jangan lupa meminta terlebih dahulu kepada pemiliknya sebelum kau tanam di rumah kita dan yang penting lagi kau rawat apa yang telah kau tanam jangan hanya bisa merasakan buahnya saja”.
Keesokan harinya aku menemui penjaga masjid lalu meminta izin ingin mencangkok bibit mangga. Setelah mendapatkan izin lalu kucangkok dan menunggu bibit itu layak tanam. Setiap hari selalu kulihat perkembangan bibit manggaku kuperhatikan pertumbuhan akarnya untuk mengetahui apakah sudah bisa ditaman atau belum. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil cangkokan yang baik. Akhirnya waktu penanaman pun tiba. Aku senang sekali karena akhirnya aku memiliki pohon mangga di halanaman rumahku sendiri. Sudah mulai kubayangkan bagaimana rasanya memetik, mengupas kulitnya dan merasakan manisnya mangga itu. Namun meskipun butuh beberapa tahun lagi aku pasti bersabar, begitu hatiku berkata. Aku berpesan kepada ibu, jika saya lupa merawat pohon mangga kita tolong dingatkan atau jika saya tidak pulang tolong ibu jaga. Ibuku senang melihat anaknya ingin sekali memiliki pohon buah yang kutanam dengan tanganku sendiri atas arahan ibu.
Umurku bertambah begitu pula dengan pohon mangga di halaman rumah kami sudah menginggi. Kini pohon mangga itu lebih tinggi dariku bahkan hampir tiga kali lipat. Daun-daunya kini rimbun bisa untuk tempat aku dan ibu berteduh saat panas terik. Aku suka sekali berteduh di bawahnya sambil mendengar nasehat ibu. Ukuran pohon dan rantingnyapun sudah besar dan kuat bisa kujadikan tempat mengikat tali jemuran ibuku. Aku ingin sekali mengupaskan ibu buah dari pohon itu jika nanti sudah mulai berbuah.
Rumahku semakin rimbun pohon manggaku kini lebih tinggi dari atap rumahku. Sebentar lagi pohonku berbuah, kesabaranku benar-benar diuji saat ini sampai-sampai terbawa kedalam mimpi.
Rumahku terlalu sempit dan tidak sanggup menampung seluruh diameter pohon mangga itu.
Sebagian cabangnya menjulur kehalaman rumah tetangga. Dengan demikian maka mangga yang buahnya tumbuh diatas halaman sebelah adalah hak tetanggaku, begitu menurut hukum dalam Agamaku. Dengan demikian maka tidak semua buah dari pohon mangga itu bisa kami panen. Ibu bilang, Tidak masalah bagi kita untuk hal itu. Agama adalah tuntunan kita, lagi pula mana mungkin buah sebanyak itu bisa kita habisan semua bisa pecahlah perut kita dan cepat bosanlah kita. Yang tersisa di halaman rumah kita, ibu rasa cukup sebagai imbalan kesabaran dan ketelitianmu selama ini bahkan lebih dari cukup. Tetangga pun bisa kau ajak untuk merasakannya. Ibu benar lagi.
Buah mangga yang sudah sebesar kepalan orang dewasa sebentar lagi sudah bisa dipanen. Ketika kutinggalkan rumahku aku tidak lupa selalu berpesan kepada ibu agar menjaga buah mangga yang tersisa. Sebagian buahnya telah nampak menguning itu tandanya kami akan segera merasakan nikmatnya buah mangga. Akan kukupaskan ibu untuk buah yang pertama kupetik nantinya.
Buah manggaku berkurang bahkan tidak tersisa sama sekali. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan rumahku pagi itu, buah mangga yang kunanti bertahun-tahun tak satu pun tersisa. Mungkin musang atau tupai yang memanennya semalam ketika aku tertidur pulas. Tupai atau musang kalian sangat mengerti aku, kalian hadiahi aku mimpi bahagia agar aku susah terbangun lalu kau ambil buah manggaku dan tanpa ada hati kau tebang pula pohonnya. Secepat itukah mereka merebutnya. Tadinya, hari ini aku dan ibuku memanen buah mangga kami. Semua harapan dan impianku hilang sekejab. Apa yang semestinya kulakukan sekarang. Apakah aku harus membeli buah mangga di toko buah untuk menghilangkan rasa penasaranku juga untuk megobati kekesalanku atau kutunggu pohon manggaku kembali bertunas, tumbuh dan berbuah. Apakah kuruncingi saja pangkal pohon mangga itu lalu kuhantamkan perutku keujungnya, atau bagaimana?.
Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang perjuangan yang diakhiri dengan kebahagiaan.
Kisah ini saya tulis untuk diri saya sendiri.
Menangisi Buah Mangga.
Aku adalah seorang anak kecil yang bisa dikatakan masih lugu dan bodoh. Usiaku pada waktu itu baru sepuluh tahun. Disuatu sore sepulang dari sekolah aku melihat seorang anak laki-laki seumuran denganku sedang bersama keempat temannya berjalan menuju sebuah toko di seberang jalan tempatku memperhatikan mereka. Kelima anak tersebut terlihat begitu ceria dengan langkah serentak menuju toko yang ternyata toko tersebut adalah toko buah. Tidak lama kumudian mereka kembali terlihat setelah beberapa menit pintu kaca dan susunan buah-buah menghalangi pandanganku. Terlihat seorang dari mereka membawa sebuah keranjang yang tentunya berisi buah yang mereka beli dari toko itu.
Timbul rasa iri melihat mereka. Karena aku takut timbul niat yang tidak baik terhadap mereka aku melangkahkan kakiku melanjutkan perjalananku menuju rumah.
Sesampainya di rumah pikiranku masih saja teringat tentang kelima anak tadi. Sepertinya aku sangat ingin merasakan seperti apa rasanya buah. Maklum rumahku tidak memiliki halaman yang cukup untuk menanam buah-buahan. Keluarlah aku dari rumah lalu berdiri di depan pintu terlihat sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan masjid. Terlintas dalam pikiranku untuk menanam pohon mangga di halaman rumahku yang sangatlah sempit. Setelah kuperkirakan ternyata cukup untuk menanam pohon mangga walau hanya satu pohon. Pergilah aku menemui ibuku yang sedang memasak di dapur. Lalu aku bertanya kepada ibu mengenai pohon mangga mulai dari cara menanam, perawatan, berapa lama tubuhnya serta bagaimana rasa buah mangga itu sendri. Ibuku tersenyum dan menjelaskan dengan lengkap dan semua yang ibu katakan bisa kuterima dan kuingat-ingat. Tanpa menunggu lama aku bergegas mencari bibit mangga untuk kutanam di rumahku. Aku berkeliling desa berjalan dari rumah ke rumah sambil memperhatikan pohon mangga yang aku temui di sepanjang jalan. Banyak sekali pohon mangga yang kutemui dan semua sama saja. Setelah kupikir-pikir kalau ada tempat kumeminta bibit mangga yang dekat dari rumah kenapa harus susah payah keliling desa. Saat aku sedang memperhatikan pohon mangga di halaman masjid yang berada tidak begitu jauh dari rumahku ibu bertanya apakah sudah mandapatkan pohon mangga yang akan aku tanam dihalaman rumah. sudah bu, pohon mangga yang di depan masjid itu, jawab ku. Ibu bertanya lagi bagaimana dengan pohon mangga yang sudah kamu lihat di rumah tetangga kita. Apa tidak ada yang baik. Bukan begitu bu, tegasku. Pohon mangga yang kutemui semua baik, jenisnya pun sama saja. Aku hanya ingin meminta bibit dari pohon yang ada di depan masjid, selain tempatnya tidak jauh aku juga tahu sejarah pohon itu. Bahkan tinggi kami pernah sama. Lalu ibu menutup perbincangan kami dengan sebuah pesan “Jangan lupa meminta terlebih dahulu kepada pemiliknya sebelum kau tanam di rumah kita dan yang penting lagi kau rawat apa yang telah kau tanam jangan hanya bisa merasakan buahnya saja”.
Keesokan harinya aku menemui penjaga masjid lalu meminta izin ingin mencangkok bibit mangga. Setelah mendapatkan izin lalu kucangkok dan menunggu bibit itu layak tanam. Setiap hari selalu kulihat perkembangan bibit manggaku kuperhatikan pertumbuhan akarnya untuk mengetahui apakah sudah bisa ditaman atau belum. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil cangkokan yang baik. Akhirnya waktu penanaman pun tiba. Aku senang sekali karena akhirnya aku memiliki pohon mangga di halanaman rumahku sendiri. Sudah mulai kubayangkan bagaimana rasanya memetik, mengupas kulitnya dan merasakan manisnya mangga itu. Namun meskipun butuh beberapa tahun lagi aku pasti bersabar, begitu hatiku berkata. Aku berpesan kepada ibu, jika saya lupa merawat pohon mangga kita tolong dingatkan atau jika saya tidak pulang tolong ibu jaga. Ibuku senang melihat anaknya ingin sekali memiliki pohon buah yang kutanam dengan tanganku sendiri atas arahan ibu.
Umurku bertambah begitu pula dengan pohon mangga di halaman rumah kami sudah menginggi. Kini pohon mangga itu lebih tinggi dariku bahkan hampir tiga kali lipat. Daun-daunya kini rimbun bisa untuk tempat aku dan ibu berteduh saat panas terik. Aku suka sekali berteduh di bawahnya sambil mendengar nasehat ibu. Ukuran pohon dan rantingnyapun sudah besar dan kuat bisa kujadikan tempat mengikat tali jemuran ibuku. Aku ingin sekali mengupaskan ibu buah dari pohon itu jika nanti sudah mulai berbuah.
Rumahku semakin rimbun pohon manggaku kini lebih tinggi dari atap rumahku. Sebentar lagi pohonku berbuah, kesabaranku benar-benar diuji saat ini sampai-sampai terbawa kedalam mimpi.
Rumahku terlalu sempit dan tidak sanggup menampung seluruh diameter pohon mangga itu.
Sebagian cabangnya menjulur kehalaman rumah tetangga. Dengan demikian maka mangga yang buahnya tumbuh diatas halaman sebelah adalah hak tetanggaku, begitu menurut hukum dalam Agamaku. Dengan demikian maka tidak semua buah dari pohon mangga itu bisa kami panen. Ibu bilang, Tidak masalah bagi kita untuk hal itu. Agama adalah tuntunan kita, lagi pula mana mungkin buah sebanyak itu bisa kita habisan semua bisa pecahlah perut kita dan cepat bosanlah kita. Yang tersisa di halaman rumah kita, ibu rasa cukup sebagai imbalan kesabaran dan ketelitianmu selama ini bahkan lebih dari cukup. Tetangga pun bisa kau ajak untuk merasakannya. Ibu benar lagi.
Buah mangga yang sudah sebesar kepalan orang dewasa sebentar lagi sudah bisa dipanen. Ketika kutinggalkan rumahku aku tidak lupa selalu berpesan kepada ibu agar menjaga buah mangga yang tersisa. Sebagian buahnya telah nampak menguning itu tandanya kami akan segera merasakan nikmatnya buah mangga. Akan kukupaskan ibu untuk buah yang pertama kupetik nantinya.
Buah manggaku berkurang bahkan tidak tersisa sama sekali. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan rumahku pagi itu, buah mangga yang kunanti bertahun-tahun tak satu pun tersisa. Mungkin musang atau tupai yang memanennya semalam ketika aku tertidur pulas. Tupai atau musang kalian sangat mengerti aku, kalian hadiahi aku mimpi bahagia agar aku susah terbangun lalu kau ambil buah manggaku dan tanpa ada hati kau tebang pula pohonnya. Secepat itukah mereka merebutnya. Tadinya, hari ini aku dan ibuku memanen buah mangga kami. Semua harapan dan impianku hilang sekejab. Apa yang semestinya kulakukan sekarang. Apakah aku harus membeli buah mangga di toko buah untuk menghilangkan rasa penasaranku juga untuk megobati kekesalanku atau kutunggu pohon manggaku kembali bertunas, tumbuh dan berbuah. Apakah kuruncingi saja pangkal pohon mangga itu lalu kuhantamkan perutku keujungnya, atau bagaimana?.
