Kamis, 11 Maret 2010

Dian Menangis

Dian mana panggilan seorang gadis yang berasal dari barat. Dia adalah seorang anak yang begitu ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Disuatu sore Dian dan dua orang kawannya bermain boneka diteras rumah, mereka terlihat begitu senang dengan boneka baru milik Dian pemberian pamannya yang baru saja pulang dari bekerja. Paman Dino, panggilan yang terdengar akrab di komplek itu. Paman Dino adalah seorang pekerja pasar yang sehari-hari berjualan sepatu bekas. Pamanlah merawat Dian sejak ia berumur tiga tahun yang kemudian menyekolahkannya. Saat ini ia berumur 10 tahun dan sampai hari ini mereka masih bisa bertahan dengan penghasilan paman yang tidak menentu. Kedua orang tua Dian menitipkannya dengan paman sebab keduanya harus pergi ke timur karena pindah tugas.

Tidak lama kemudian datanglah seorang anak laki-laki yang sepertinya kurang akrab dengan mereka. Dodi nama anak tersebut, seorang anak yang bandel, nakal dan suka sekali mengganggu anak-anak lain. Dengan waswas Dian dan kedua temannya itu memandang Dodi dengan penuh harapan tidak akan terjadi sesuatu yang bisa merubah suasanan sore itu. Dodi menuju teras rumah lalu mendekati ketiganya, mereka semakin takut. Dian berdiri dari duduknya lalu bertanya kepada Dodi apa yang akan ia lakukan terhadap mereka. Dodi tiba-tiba lari, karena melihat paman Dino telah pulang dari pasar. Dian dan kedua temannya terselamatkan dari kekejaman Dodi sore itu.

Paman Dino berumur 28 tahun dan belum menikah, ia merasa belum sanggup menduakan kasih sayangnya terhadap keponakannya itu. Ia menganggap Dian sebagai anaknya sendiri. Dian kini duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, ia begitu cerdas dari awal masuk di sekolahnya Dian tidak pernah melepas gelar juara yang selalu ia raih. Oleh karena itu terkadang biaya sekolah Dian dibantu oleh pihak sekolah sehingga ia masih bisa menuntut ilmu sampai sekarang. Prestasi yang diraihnya bukan hanya dari palajaran di sekolah namun dari berbagai lomba yang ia ikuti mulai dari tingkat sekolah sampai ditingkat kabupaten. Dian beruntung dengan anugrah Tuhan yang memberinya suara yang merdu dan berkarakter. Dari semua perlombaan menyanyi yang ia ikuti seringkali membawanya menjadi seorang juara. Dari situlah nama Dian mulai dikenal orang banyak.

Dian mulai beranjak remaja, usia yang menginjak 17 tahun tentu saja tidak bisa dikatankan sebagai anak kecil lagi. Dian tinggal bersama paman dino dan seorang wanita yang dinikahi pamannya empat bulan lalu, mereka kini menempati sebuah kontrakan kecil yang didapat dari berbagai prestasi Dian dalam bernyanyi. Meskipun telah menikah namun kasih sayang paman dino kepadanya tidak berkurang sedikitpun, bahkan ia sangat bahagia karena bertambah satu orang yang menyayanginya. Tiga bulan lagi ia akan menghadapi ujian kelulusan yang menentukan nasibnya selama bersekolah di SMA yang tidak begitu jauh dari kontrakan baru itu. Olah karena itu kini ia mulai lebih berkonsentrasi kepala sekolahnya dibanding kariernya yang menjadi seorang vokalis sebuah Band yang dibentuk bersama teman-teman sekolahnya.

Ujian pun berakhir, kini Dian sedikit lebih tenang walau masih merasa waswas menunggu hasil ujian yang akan ia terima beberapa minggu kedepan. Setiap hari ia pergi kapasar membantu pamannya berjualan, dari pagi sampai sore dan malam harinya ia sempatkan untuk latihan bersama grub bandnya. Beberapa hari ini latihan band diadakan setiap hari mengingat tidak lama lagi Dian dan kawan-kawan akan mengikuti sebuah Festival band yang diadakan setahun sekali. Festival tersebut menyaring band-band terbaik yang kemudian akan diakngkat menjadi band papan atas dinegeri ini. Oleh sebab itu Dian, Candra, Vino, Cinta dan Fajar terus berlatih dengan harapan mereka bisa menjadi yang terbaik Festival yang akan mereka ikuti.

Dengan semangat empat-lima mereka menuju gedung serba guna milik Pemerintah Kabupaten, dimana gedung itu yang digunakan sebagai tempat dilaksanakannya Festival band. DFCV nama band yang digawangi oleh Dian sebagai Vokal, Candra pada Gitar, Cinta sebagai pianis, Vino memegang bass dan Fajar sebagai penabuh Drum. Karena mendaftar pada waktu pendaftaran hampir selesai mereka mendapat giliran paling trakhir. Seluruh band yang mengikuti ajang tersebut berjumlah lima belas band. karenanya mereka harus rela menunggu lama untuk menampilkan kebolehannya dalam bermusik. Setelah menunggu selama dua jam lebih akhirnya tiba giliran DFCV untuk tampil.

Pengalaman pertama bagi mereka mengikuti ajang besar dimana sebelumnya hanya terbiasa manggung disekolah dan mengisi acara dikelurahan. Mungkin ini adalah pengalaman paling berharga bagi band itu.
Setelah menunggu beberapa hari tibalah saatnya pengumuman band apa saja yang berhasil menembus tiga besar. Dari hasil penilaian juri dan dukungan terbanyak dari penonton yang hadir dalam Festival tersebut Dian dan teman-temannya hanya bertengger di peringkat kedua, namun hasil itu tidak membuat mereka murung melainkan menjadi anugrah yang teramat sangat bagi mereka. Hari itu menjadi hari paling bahagia bagi kelima personil DFCV dimana selain prestasi yang mereka raih melaui musik, seluruh dari mereka menerima hasil ujian yang begitu memuaskan. Lepaslah setatus sebagai siswa kini mereka siap untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Sepulangnya dari sekolah Dian tidak langsung pulang ke rumah melainkan menuju pasar. Ia ingin memberitahukan kabar gembiran ini kepada paman Dino. Dengan rasa bangga bercampur haru paman memeluk Dian dan mengucapkan selamat atas keberhasilannya sampai tahap ini. Dengan penuh harapan pamannya sangat ingin ia melanjutkan pendidikankan kejenjang yang lebih tinggi namun ia merasa ragu apakah ia bisa melanjutkan pendidikan dengan keadaan yang seperti ini. Dalam pikirannya ia ingin membantu pamannya dipasar untuk sementara waktu sampai keadaan membaik sambari menunggu nasib bandnya yang pernah dijanjikan menjadi band yang besar. Harapan itu yang ia andalkan untuk menentukan masa depannya. Dari hasil manggung sana-sini yang ia gunakan untuk membantu ekonomi keluarganya. Memang sulit jika ia hanya mengandalkan penghasilan dari band dimana saat ini begitu banyak grub band yang menjamur di negeri ini. Yang ia takutkan bukan persaingan kualitas, namun dijaman sekarang semua bisa saja asal ada uang, sedangkan ia tak memilki itu. Band yang berawal dari alat sekolah itu hanya mengandalkan karya, tidak ada yang lain apa lagi uang. Seluruh personilnya berasal dari kalangan bawah yang menjadikan musik sebagai seni yang benar-benar berseni dan menjadi kepuasan hati.

Setelah menunggu dan menunggu belum juga ada kabar dari pihak penyelenggara dimana sebelumnya akan dijanjikan adanya fasilitas untuk menjadi band besar bagi mereka yang terhitung dalam festival yang diadakan sepuluh bulan yang lalu. Sebentar lagi pendaftaran mahasiswa baru akan dibuka sedangkan nasib Dian belum juga berubah. Sepertinya mimpi Dian untuk bersekolah kembali tertunda.

Sebuah keajaiban yang telah lama dinantikan. Seorang laki-laki muncul dari ujung jalan menuju rumah Dian. Ketika itu dian tidak berada di rumah, namun seharusnya dian sudah pulang dari pasar membantu pamannya berjualan tapi jam segini ia belum juga pulang. Laki-laki itu adalah seorang yang ditugaskan dari pihak manajemen yang berjanji mengangkat band yang sudah lama dinantikan dian dan teman-temannya. Laki-laki itu tidak lama berada di rumah dian, dia hanya menyampaikan bahwa dian dan teman-temannya diminta untuk datang ke kantor untuk menandatangani kontrak dan penentuan jadwal rekaman. Pesan bahagia itu dian terima ketika ia kembali ke rumah tidak lama setelah laki-laki itu meninggalkan rumahnya. Perasaan yang sangat senang di hatinya, ia langsung menuju rumah fajar yang tidak begitu jauh dari rumahnya untuk memberitahukan kabar baik untuk band mereka.

Jadwal rekaman pun telah mereka terima, mimpi yang selama ini menjadi motivasi bagi mereka akhirnya terwujud juga. Segala macam materi telah mereka siapkan, mulai dari lagu-lagu sampai dengan hal-hal yang bisa membuat karya mereka terangkat pun mereka lakukan. Di studio milik mereka sendiri mereka mencoba mengasah kemampuan agar lebih matang lagi.

Sehari sebelum band tersebut rekaman sesuatu terjadi pada salah satu personilnya. Nasib malang yang menimpa Fajar yang juga menjadi musibah bagi kelimanya. Sewaktu Fajar sedang di perjalanan menuju studio untuk latihan terakhir sebelum proses rekaman dimulai ia menjadi korban dari keganasan rel kereta api yang kemungkinan pristiwa tersebut terjadi ketika ia sedang menyebrang rel kereta dan tiba-tiba datang sebuah sepeda motor yang mebraknya dari belakang sehingga fajar terjatuh dan kepalanya membentur rel. Begitu tutur seorang saksimata yang pada saat kejadian berada di lokasi. Hari itu menjadi hari terakhir baginya. Ini merupakan pukulan keras bagi dian dan ketiga temannya. Kematian Fajar tentu saja menggagalkan band mereka sebab tidak mungkin jika salah satu personilnya harus diganti dalam waktu yang singkat. Dian dan ketiga temannya memutuskan untuk membubarkan band tersebut.

Butuh waktu lama bagi mereka melupakan kejadian itu terutama bagi Dian yang menggantungkan hidupnya pada nasib band dimana selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segala kemampuannya dan menjadi tempat ia mencurahkan apa yang ada didalam hatinya. Kini ia tidak lagi tinggal bersama pamannya ia sudah bekerja di sebuah mini market yang letaknya cukup jauh dari rumah paman dino. Dengan gaji yang ia miliki ia menyewa sebuah rumah kos sebagai tempat tinggalnya sekarang. Namun uang yang ia dapat dari hasil bekerja belum juga cukup ia gunakan untuk biaya melanjutkan pendidikannya. Sudah dua pulah dua tahun usia Dian saat ini, selayaknya ia memiliki seorang kawan laki-laki yang sepesial bagi. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, ia tidak pernah merasa minder atau merasa malu dengan cacian teman sepekerjaannya yang sering kali memanggilnya dengan sebutan gadis malang. Mungkin karena Dian tidak memiliki seorang pacar seperti remaja-remaja lain. Akan tetapi itu semua tidak pernah ia hiraukan. Dian tidak pernah merasa dilahirkan sebagai anak malang, apa yang Tuhan anugrahkan kepadanya sangatlah cukup baginya. Dengan suara yang merdu, tubuh tinggi semampai dan paras yang cantik juga manis. Ia hanya belum ingin menambah beban dalam pikirannya dengan memilki pacar, disamping itu pula banyak yang harus ia pikirkan salah satunya pendidikan tinggi yang harus ia capai dalam hidupnya.

Pekerjaan yang ia lakukan setiap hari kini mulai bisa ia jalani dengan senang dan sepenuh hati walau penghasilannya hanya bisa untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari tanpa ada sisa yang bisa ia sisihkan. Seorang pelanggan yang seringkali datang ke tempat kerjanya menawarkan pekerjaan yang lebih menjanjikan untuknya. Yaitu bekerja di sebuah perusahaan transportasi atau trevel yang gajinyapun dua kali lipat dari gajinya sekarang ini. Itu sempat menjadi pertimbangan baginya namun ia tidak mau mengambil keputusan dengan cepat sebab ia belum mengenal laki-laki itu. Laki-laki itu masih terlihat muda, usianya kira-kira dua puluh lima tahun. Dian belum mengerti maksud Rio nama pemuda tersebut yang tiba-tiba menawarkan pekerjaan itu. Sebelumnya setiap hari Rio datang ke mini market itu hanya untuk membeli rokok dan kali ini menawarkan pekerjaan kapadanya. Rio tidak kecewea dengan pertimbangan Dian sebab ia mengerti mangapa Dian belum bisa menerima perkerjaan yang ia tawarkan. Namun Rio tidak begitu saja membatalkan niat baiknya itu yang sebenarnya datang dari dorongan perasaan sukanya kepada dian, setiap hari sengaja ia temui dengan alasan membeli sesuatu ditempat kerjanya.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendekati Dian. Dengan semangat yang ia milki ia terus berusaha untuk meyakinkan niat tulusnya itu. Sebelumnya ia merasa ragu apakah kepedulian ini akan sampai pada tujuan atau tidaknya karena ia mengenal Dian sebagai sosok yang begitu dingin. Mereka kini mulai terlihat semakin dekat, leyaplah panggilan anak malang yang sebelumnya disandangnya walau sebenarnya sampai saat ini mereka sekedar berteman. Dian merasa nyaman dan mulai percaya dengan Rio. Kini ia kembali mempertimbangkan permintaan teman barunya itu.

Satu tahun berakhir, setelah sebelumnya menjadi seorang pemandu wisata kini Dian diangkat sebagai sekretaris di kantor Pak Daman. Pak Daman adalah ayah Rio yang juga begitu memperhatikannya. Kebaikan keduanya membuat Dian lebih mensyukuri apa yang ia dapatkan selama ini. Dian menjadi pegawai kesayangan Bosnya karena pak Daman mengetahui bahwa Rio menyukai Dian sudah begitu lama. Ia sengat apresiasi terhadap perasaan yang anaknya milki, dukungan yang luar biasa di tunjukan seorang ayah kepada anaknya bahkan ia sangat menyetujui jika Dian menjadi menantunya kelak. Namun saat itu Rio belum juga menyelesaikan kuliahnya yang masih tersendat di ujung jalan. Ini menjadi motivasi khusus bagi Rio untuk segera menyelasikan pendidikannya dan menjadi seorang sarjana.

Secara tidak langsung Dian perlahan memahami perasaan Rio kepadanya dengan semua yang Rio berikan selama ini. Kebaikan dan perhatian yang ia terima tidak lagi sewajarnya. Ketika Dian berniat Mengunjungi Paman dan bibi, Rio dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarnya. Sikap Rio yang terlihat akrab dengan paman dan bibi semankin menyakinkan Dian bahwa ia telah menemukan seseorang yang bisa menemani hidupnya dan menjadikan Rio sebagai laki-laki pertama untuk mengisi hati Dian yang selama ini ia biarkan kosong tanpa penghuni. Ia hanya menunggu keberanian Ria ketika dimana Rio mengutaraka isi hati yang sebenarnya. Mungkin selama ini Rio tidak pernah membicarakan hal itu karena memang sikap yang Dian tunjukan tidak sedikitpun memberi peluang untuk berbicara masalah itu. Keadaan itu mulai disadarinya dan dian mulai merubah sikapnya menyesuaikan dengan perasaan yang juga ia miliki.

Saling mencintai, itu yang mereka tekankan selama ini untuk terus bersama. Tanpa ada kata jadi mereka sudah saling mengerti atas perasaan masing-masing dan menjalani hubungan lebih dari teman biasa. Hubungan ini nampak tidak lagi main-main, dengan segala pengertian dan perhatian yang sama-sama mereka tunjukan terhadap pasangannya dnegan tujuan menjadi sebuah hubungan yang akan bertemu di titik pernikahan. Tidak ada lagi keraguan diantara mereka, dengan pertimbangan sebelumnya kini Rio telah menyesaikan kuliahnya yang dua bulan lalu telah resmi menjadi seorang Sarjana. Walaupun kini ia masih bekerjan di perusahaan milik orang tuanya sendiri. Namun itu tidak menjadi masalah bagi Dian untuk benar-benar menerima Rio sebagai seorang suami yang akan menjadi panutan baginya dan seluruh keluarganya kelak.

Kabar gembira ini pun telah sampai di rumah paman Dino, keluarga dari pihak Dian sangat menyetujui hubungan mereka yang memang sudah lama tercium aroma asmara diantara keduanya sejak meraka pertama kali datang ke rumah paman Dino ketika itu Dian baru saja di terima bekerja pada orang tua Rio. Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa mereka telah menatapkan tanggal pernikahan yang jatuh pada tanggal 14 April yang masih tiga bulan kedepan. Kebahagiaan diantara mereka semakin terlihat seperti tidak ada lagi yang mampu memisahkan keduanya.

Segala persiapan telah mereka lakukan mulai dari cetak undangan serta sewa gedung yang nantinya akan digunakani untuk resepsi pernikahan. Seluruh teman serta kerabati Rio maupun Dian sudah mengetahui berita ini. Hari bahagia yang dinanti tinggal beberapa hari lagi seluruh hal yang dibutuhkan pun telah dipersiapkan dengan matang. Seorang gadis semumuran Dian yang terlihat sangat akrab dengannya selalu menemani Dian dan membantu apapun yang dilakukan oleh Dian. Gadis itu adalah Cinta teman SMA sekaligus teman satu band Ketika itu. Cinta kini bekerja sebagai wirausahawan, ia adalah teman terdekat Dian. Cinta sempatkan datang menemani Dian disaat menjelang hari bahagia bagi sahabatnya itu.

Ketika malam sempat menjadi tema pembicaraan diantara mereka tentang masa lalu yang menjadi kenangan paling berkesan walau cerita itu berakhir dengan kesedihan yang sulit mereka lupakan. Keceriaan dan kebersamaan yang tertuang di setiap baris cerita yang mereka ukir ketika masih bersamaa beberapa tahun silam menjadi kebanggaan tersendiri bagi kelima teman sejati itu. Kemudian apakah hanya kau yang hadir menyaksikan kebahagiaanku disaat hari pernikahanku nanti, ucap Dian dengan harapan kedua temannya yaitu Vino dan Candra pun hadir dalam acara pernikahannya yang tinggal tiga hari lagi. Kemudian dengan keharuan Cinta menanggapi perkataan sahabatnya itu. Dian, aku rasa mereka akan menyempatkan waktunya untuk menghadiri pernikahan sahabat mereka. Lagi pula undangan telah kau antar sendiri. Akan menjadi sebuah penyesalan jika mereka tidak menghadiri pernikahanmu. Kamu begitu peduli kepada kami semua, kamu begitu baik tidaklah mungkin aku akan melewatkan hari bahagiamu yang akan kau awali pada ihari itu. begitu pula dengan Vino dan Candra, mereka pasti berpikiran sama seerti aku. Jadi jangan kau pikirkan masalah itu. Dian merasa tenang mendengar ucapan Cinta yang begitu menyakinkan itu. Malam semakin larut dan kata selamat tidur mengakhiri perbincangan keduanya.

Kesibukan demi kesibukan terlihat di rumah Rio dimana akan dilangsungkan acara akad nikah besok pagi. Seluruh keluarga Dian telah tiba, terlihat paman Dino sedang berbincang-bincang dengan calon besannya. Terlihat pula kesibukan di sudut-sudut lain. Di sana terlihat Dua orang laki-laki seumuran Dian yaitu Vino yang sedang mengendong seorang anak dan seorang wanita duduk di sampingnya tentu saja itu adalah anak serta istrinya. Laki-laki yang satunya nampak bersama lamunannya, ia adalah candra. Candra kini menjadi seorang penulis dan sampai saat ini ia belum menikah. Candra yang dulu menjadi penulis lirik bagi lagu-lagu DFCV. Ia memang terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya. Kebiasaan yang suka melamun membuatnya terlihat seperti kurang waras dan berpenampilan semberaut. Sepulangnya dari pasar, Dian bersama Cinta menemui kedua sahabat mereka itu. Kebahagiaan bercampur haru menghiasi pertemuan itu yang hampir lima tahun tidak pernah berkumpul lagi. Apalagi dengan Candra, keberadaannya baru diketahui ketiga sahabatnya itu seminggu yang lalu. Yang sebelumnya menghilang entah kemana. Perbincangan yang hangat tercurah ketika itu, masing-masing menceritakan pengalaman hidup dan masalah pekerjaan. Kecuali Candra yang terlihat hanya membisu. Candra tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya siang itu, dimana ia bisa kembali bertemu dengan seseorang yang selama ini ia cari. Seseorang yang begitu ia kagumi dan ia sayangi sejak ia kecil. Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kekecewaan sebab ketika ia menemukan kembali pujaan hatinya, ia mengetahui bahwa gadis yang ia nanti selama ini akan menikah. Gadis itu adalah Dian.

Sejak mereka menjadi rekan seperjuangan ketika masih duduk dibangku SMA Candra sudah memendam perasaannya kepada Dian. Perasaan yang ia rasakan itu semakin kuat ketika mereka tergabung dalam DFCV dimana mereka bertemu setiap hari dan bagai benih- benih cinta menjadi setangkai bunga yang mekar namun tidak pernah ia nyatakan. Candra merasa itu mutlak kebodohan dirinya yang tidak mampu mengungkap apa yang sebenarnya ia rasakan yang kini terlambat sebab hanya dalam hitungan jam kekasih pujaannya itu telah menjadi milik orang lain. Yang harus ia lakukan saat ini adalah menyesali apa yang selama ini terjadi dan merelakan pujaan hatinya menjadi milik orang lain.

Dari awal Candra tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya duduk dan kadang tersenyum. Berbeda dengan ketiganya yang asik saling menceritakan kisah hidup masing-masing. Di tengah-tengah lamunannya Candra berpikir apa yang akan ia lakukan sekarang, apakah harus diam dan memendam perasaan ini selamanya menjadi ganjalan hati atau mengatakan semua yang ia rasakan sejak dulu kepada Dian. Namun jika kukatakan sekarang apakah akan merusak suasana hati kekasih pujaannya itu, sebuah pertanyaan yang memberatkan lidahnya untuk jujur mengenai perasaannya. Selang beberapa menit setelah ia tersadar dari lamunannya ia menarik tangan Dian dan mengajaknya keluar dari ruangan. Vino dan Cinta tidak menghiraukan sikap Candra sebab mereka tau dari dulu Candra memang seperti itu, mereka tetap saja asik berbincang. Duduklah Candra dan Dian di kursi panjang yang berada di bawah pohon besar yang tertanam di pojok halaman. Tanpa rasa ragu Candra menyatakan perasasnnya. Yang sebelumnya ia awali dengan harapan agar Dian sekedar mengetahui perasaan yang telah ia pendam selama ini. Ia hanya tidak ingin lagi ada yang mengganjal dihatinya, namun sebenarnya masih ada harapan hati yang menginginkan Dian menjadi miliknya. Walaupun ia tahu bahwa kecil kemungkinan untuk mendapatkan hati Dian yang selama ini memang belum mengetahui perasaan yang dimilki Candra terhadapanya. Dian sangat terkejut dan mulai bingung apa yang harus ia katakan kepada Candra. Dian hanya terdiam sembari menatap Candra dengan tatapan tajam. Beberapa menit sampat tak terdengar suara keluar dari mulut keduanya. Dan akhirnya Candra menyambung lagi pembicaraannya. Ia mengatakan semua itu bukan bermaksud untuk merusak suasana hati Dian namun agar Dian mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya yang ia rasakan dari dulu. Mendengar ucapan itu, Dian mulai menggapi ucapan Candra. Aku sungguh-sungguh tidak mengetahui apa yang kamu rasakan, dan mengapa tidak dari dulu kamu bilang yang sebenarnya. Sekarang semuanya sudah terlambat tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Candra terdiam dan mulai mengerti bahwa usahanya dengan mengatakan semuanya tidak mungkin menghasilkan apa-apa. Jika benar kamu sayang dengan aku, aku harap kamu datang besok saat aku sah menjadi istri Rio dan jangan sampai aku tidak melihatmu. Seandainya kamu tidak ada diantara kami aku tidak akan memaafkanmu atas dua kesalahanmu yang pertama mengapa tidak dari dulu kamu memeberi tau aku tentang pesaan itu dan yang kedua karena kamu tidak senang melihat aku bahagia. Kemudian Dian berdiri meninggalkan Candra dan kembali berkumpul dengan Cinta dan Vino.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar