Senin, 24 Mei 2010

DARAH JUANG (Ruci Kudo Jogja, 24 Mei 2010)

Setiap perjuang tentulah memiliki tujuan diantaranya yaitu menginginkan sebuah hasil yang memuaskan, minimal memenuhi target dan apabila melebihi target awal merupakan sebuah bonus atau hadiah yang kita terima. Dalam kehidupan ini suatu perjuangan bisa kukatakan sama seperti perjudian sebab kita tidak mengetahui bagaimana dan sebesar apa hasil yang akan kita peroleh, kita hanya bisa berusaha sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam perjuangan itu. Banyak kisah telah saya dengar atau saya baca yang menceritakan sebuah perjuangan, cerita-cerita itu merupakan kisah yang berakhir dengan bahagia. Kisah ini bisa menjadi sebuah hiburan dan sebagai motivasi bagi penikmat cerita tersebut.

Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang perjuangan yang diakhiri dengan kebahagiaan.

Kisah ini saya tulis untuk diri saya sendiri.


Menangisi Buah Mangga.

Aku adalah seorang anak kecil yang bisa dikatakan masih lugu dan bodoh. Usiaku pada waktu itu baru sepuluh tahun. Disuatu sore sepulang dari sekolah aku melihat seorang anak laki-laki seumuran denganku sedang bersama keempat temannya berjalan menuju sebuah toko di seberang jalan tempatku memperhatikan mereka. Kelima anak tersebut terlihat begitu ceria dengan langkah serentak menuju toko yang ternyata toko tersebut adalah toko buah. Tidak lama kumudian mereka kembali terlihat setelah beberapa menit pintu kaca dan susunan buah-buah menghalangi pandanganku. Terlihat seorang dari mereka membawa sebuah keranjang yang tentunya berisi buah yang mereka beli dari toko itu.

Timbul rasa iri melihat mereka. Karena aku takut timbul niat yang tidak baik terhadap mereka aku melangkahkan kakiku melanjutkan perjalananku menuju rumah.

Sesampainya di rumah pikiranku masih saja teringat tentang kelima anak tadi. Sepertinya aku sangat ingin merasakan seperti apa rasanya buah. Maklum rumahku tidak memiliki halaman yang cukup untuk menanam buah-buahan. Keluarlah aku dari rumah lalu berdiri di depan pintu terlihat sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan masjid. Terlintas dalam pikiranku untuk menanam pohon mangga di halaman rumahku yang sangatlah sempit. Setelah kuperkirakan ternyata cukup untuk menanam pohon mangga walau hanya satu pohon. Pergilah aku menemui ibuku yang sedang memasak di dapur. Lalu aku bertanya kepada ibu mengenai pohon mangga mulai dari cara menanam, perawatan, berapa lama tubuhnya serta bagaimana rasa buah mangga itu sendri. Ibuku tersenyum dan menjelaskan dengan lengkap dan semua yang ibu katakan bisa kuterima dan kuingat-ingat. Tanpa menunggu lama aku bergegas mencari bibit mangga untuk kutanam di rumahku. Aku berkeliling desa berjalan dari rumah ke rumah sambil memperhatikan pohon mangga yang aku temui di sepanjang jalan. Banyak sekali pohon mangga yang kutemui dan semua sama saja. Setelah kupikir-pikir kalau ada tempat kumeminta bibit mangga yang dekat dari rumah kenapa harus susah payah keliling desa. Saat aku sedang memperhatikan pohon mangga di halaman masjid yang berada tidak begitu jauh dari rumahku ibu bertanya apakah sudah mandapatkan pohon mangga yang akan aku tanam dihalaman rumah. sudah bu, pohon mangga yang di depan masjid itu, jawab ku. Ibu bertanya lagi bagaimana dengan pohon mangga yang sudah kamu lihat di rumah tetangga kita. Apa tidak ada yang baik. Bukan begitu bu, tegasku. Pohon mangga yang kutemui semua baik, jenisnya pun sama saja. Aku hanya ingin meminta bibit dari pohon yang ada di depan masjid, selain tempatnya tidak jauh aku juga tahu sejarah pohon itu. Bahkan tinggi kami pernah sama. Lalu ibu menutup perbincangan kami dengan sebuah pesan “Jangan lupa meminta terlebih dahulu kepada pemiliknya sebelum kau tanam di rumah kita dan yang penting lagi kau rawat apa yang telah kau tanam jangan hanya bisa merasakan buahnya saja”.

Keesokan harinya aku menemui penjaga masjid lalu meminta izin ingin mencangkok bibit mangga. Setelah mendapatkan izin lalu kucangkok dan menunggu bibit itu layak tanam. Setiap hari selalu kulihat perkembangan bibit manggaku kuperhatikan pertumbuhan akarnya untuk mengetahui apakah sudah bisa ditaman atau belum. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil cangkokan yang baik. Akhirnya waktu penanaman pun tiba. Aku senang sekali karena akhirnya aku memiliki pohon mangga di halanaman rumahku sendiri. Sudah mulai kubayangkan bagaimana rasanya memetik, mengupas kulitnya dan merasakan manisnya mangga itu. Namun meskipun butuh beberapa tahun lagi aku pasti bersabar, begitu hatiku berkata. Aku berpesan kepada ibu, jika saya lupa merawat pohon mangga kita tolong dingatkan atau jika saya tidak pulang tolong ibu jaga. Ibuku senang melihat anaknya ingin sekali memiliki pohon buah yang kutanam dengan tanganku sendiri atas arahan ibu.

Umurku bertambah begitu pula dengan pohon mangga di halaman rumah kami sudah menginggi. Kini pohon mangga itu lebih tinggi dariku bahkan hampir tiga kali lipat. Daun-daunya kini rimbun bisa untuk tempat aku dan ibu berteduh saat panas terik. Aku suka sekali berteduh di bawahnya sambil mendengar nasehat ibu. Ukuran pohon dan rantingnyapun sudah besar dan kuat bisa kujadikan tempat mengikat tali jemuran ibuku. Aku ingin sekali mengupaskan ibu buah dari pohon itu jika nanti sudah mulai berbuah.

Rumahku semakin rimbun pohon manggaku kini lebih tinggi dari atap rumahku. Sebentar lagi pohonku berbuah, kesabaranku benar-benar diuji saat ini sampai-sampai terbawa kedalam mimpi.

Rumahku terlalu sempit dan tidak sanggup menampung seluruh diameter pohon mangga itu.
Sebagian cabangnya menjulur kehalaman rumah tetangga. Dengan demikian maka mangga yang buahnya tumbuh diatas halaman sebelah adalah hak tetanggaku, begitu menurut hukum dalam Agamaku. Dengan demikian maka tidak semua buah dari pohon mangga itu bisa kami panen. Ibu bilang, Tidak masalah bagi kita untuk hal itu. Agama adalah tuntunan kita, lagi pula mana mungkin buah sebanyak itu bisa kita habisan semua bisa pecahlah perut kita dan cepat bosanlah kita. Yang tersisa di halaman rumah kita, ibu rasa cukup sebagai imbalan kesabaran dan ketelitianmu selama ini bahkan lebih dari cukup. Tetangga pun bisa kau ajak untuk merasakannya. Ibu benar lagi.

Buah mangga yang sudah sebesar kepalan orang dewasa sebentar lagi sudah bisa dipanen. Ketika kutinggalkan rumahku aku tidak lupa selalu berpesan kepada ibu agar menjaga buah mangga yang tersisa. Sebagian buahnya telah nampak menguning itu tandanya kami akan segera merasakan nikmatnya buah mangga. Akan kukupaskan ibu untuk buah yang pertama kupetik nantinya.

Buah manggaku berkurang bahkan tidak tersisa sama sekali. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan rumahku pagi itu, buah mangga yang kunanti bertahun-tahun tak satu pun tersisa. Mungkin musang atau tupai yang memanennya semalam ketika aku tertidur pulas. Tupai atau musang kalian sangat mengerti aku, kalian hadiahi aku mimpi bahagia agar aku susah terbangun lalu kau ambil buah manggaku dan tanpa ada hati kau tebang pula pohonnya. Secepat itukah mereka merebutnya. Tadinya, hari ini aku dan ibuku memanen buah mangga kami. Semua harapan dan impianku hilang sekejab. Apa yang semestinya kulakukan sekarang. Apakah aku harus membeli buah mangga di toko buah untuk menghilangkan rasa penasaranku juga untuk megobati kekesalanku atau kutunggu pohon manggaku kembali bertunas, tumbuh dan berbuah. Apakah kuruncingi saja pangkal pohon mangga itu lalu kuhantamkan perutku keujungnya, atau bagaimana?.

Hidup Itu Pilihan

"Ruci menggumam: Apa iya rambutku akan panjang menjuntai menyentuh tanah, jika benar akan kupacu waktu menjemput masa itu. Kupercaya bahwa waktu itu sangatlah singkat, akan ku isi dengan sedikit khayalan aku pasti lupa pada kenyataan yang tak pernah memberiku hadiah. Senja yang jingga hanya dongeng dalam hidupku. Sejuknya embun pagi hanya bertahan hingga matahari baru sejengkal meninggalkan cakrawala timur. Sedangkan siang bolong tak sedikitpun mengajarkanku tentang perjuangan yang menghasilkan. Rambutku kini sepundak, itu berarti aku memiliki sedikit mental untuk menghadapi kutu kutu di kepalaku ketika malam hari yang begitu ramah mengajakku berpetualang didalam lingkaran mimpi. Malam ini akan kumulai cerita dengan hati sedikit dongkol berharap menjadi jernih atau semakin keruh. Semoga selamat sampai tujuan"

Aku dan Anisa di Taman Bunga (Ruci Kudo, Sekretariat Lambar Jogja, 14 Mei 10)

Sayang, engkau lihat bunga itu
Kasihan sekali wahai bunga
Duri durinya mengering tak lagi runcing
Tangkai dan daun daun layu berdebu
Apakah sebab bosan ia dilukai kumbang yang secara bergantian mengencinginya
Apakah sebab ia tak lagi peduli dengan para kumbang yang tak memiliki hati
Ataukah musim menghindar sebab enggan memanjakannya

Anisa sayang, engkau tahu bunga itu bunga kesayanganku
Kudapat dari puncak semeru
Sebagai tanda kelahiranmu
Disuatu senja lima tahun lalu
Ketika itu senja mampertontonkan jingga yang sempurna
Ketika itu pula kusebut namamu tiga kali
Anisa Anisa Anisa
Kubungkus dengan doa untuk pertumbuhanmu dan bunga semeru

Nis, bunga semeru itu milikmu
Jangan biarkan layu
Jangan biarkan berdebu
Jangan pernah engkau rela kumbang belang menghinggapinya
Jika kau tak ingin air mataku mengucap pilu

Anisa kekasihku,
Bunga semeru itu tumbuh cantik sepertimu
Sama seperti kesetiaanmu
Sama seperti kelembutanmu
Melebihi rasa kagumku kepada bunga menjelang mekar dimusim semi

Anisa, engkaulah kebangganku
Kelahiranmu anugrah hidupku
Karenamu kucintai pula bunga yang kau jaga dengan hati
Dengan ketulusan dan keikhlasan

Anisa, aku mencintaimu
Tumbuhlah bersama bunga semeru
Di taman bungaku.

Jumat, 26 Maret 2010

Disuatu Senja

Sedang menikmati senja di ujung sumatra.

Rasakan indahnya, sebelum ombak membawamu menjauh dari pulau itu, bersama malam melenyapkannya dari pandanganmu.

Jingga, biru, kelabu menyatu dalam senja. Sayangnya, tak nampak mentari yang perlahan kembali ke peraduannya.

Senja tak memberimu kesempurnaan, dengan maksud agar kau cepat kembali dan mencarinya.
Saat itu kalian bisa bertukar senyum tidak seperti kali ini.

Ketidaksempurnaan adalah sempurna. Sesempurna hitam yang menyapu jingga dengan cepatnya. kini, tinggal kelabu yg tersisa.

Kelabu itu rela berubah menjadi warna yang kau harapkan.
Ia jaga doa-doa yang dalam perjalanan menuju ketinggian.

Bisakah ia menjadi jingga yang selalu mengiringi kedatangan senja???

Bukan hanya itu, dengan bentuk yang ia miliki bahkan sanggup mengikuti putaran bumi yang selalu mendampingimu dengan berbagai warna. Tidak ketika senja saja.

Namun aku ingin selalu melihat senja bersama jingganya saat mataku terjaga.

Setiap kali muncul kerinduan kepada malam, senja itu siap menjemputmu dengan kencananya. Maka jangan pernah takut senja tidak kembali membawa harapan.
Hanya butuh hati untuk melihatnya.

Larut

Ya Allah, dia belum juga tidur, masih bertahan di malam yang semakin larut ini. 


Malam tak pernah larut, ia mengalir hingga pagi menggantikan warnanya.


Namun pagi itu masih jauh.
Apa yang kita lakukan untuk mengisi aliran malam yang semakin hitam ini. 
Jika kau sudi menyanyilah untukku untuk dirimu.


Keluarlah dari persembunyianmu lalu mendongaklah. Mereka sedang asik bercengkrama, berbincang dan berdiskusi tentang hidup dan hati.


Wahai malam hangatkan lah mereka yang menjaganya.
Sebab aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dari dalam hitam
belum sanggup jiwa untuk keluar dari sini. Ya dari tubuh lemahku
namun mataku tetap kearah sana.


Sunyi membisikkan sesuatu padaku., sebuah pesan singkat dari si penyapa dalam hitam.


Jika pesan itu membuat hati terangkai dengan bunga-bunga
secepatnya kau sebut namanya lalu kau sapa ia dengan senyuman.
Cukup itu, bahagialah seluruh penghuni malam
termasuk bintang dan bulan meski mereka tertutup oleh awan.
jauh disana.



Harapan Ini

Rasa ini menua
Kekasih hadir dari lembah mimpi sang pagi
Semakin tinggi ia menerbangkan angan

Judul syairku tiada tentu tiada batas
Karena bangga mengenal cinta
Membentuk hati
Sampai nanti dipagi terakhir bagiku

Harapan hidupku
Aku bisa merangkai tawamu, selalu
Pada wajah serta jiwa menjadi damba

Kusapa kau secepatnya
Sebelum pagi terakhirku tiba
Lalu ia meraih tanganku
Menjadikan cerita ini berbeda
Mengembalikan jumlah semula
Atau sebaliknya
Jumlah bertambah

Lebih dari kita

Airmata dan Senyum Terakhir (Dian)

"Saya nikahkan Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat Shalat dibayar tunai..."
Saya terima nikahnya Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat shalat dibayar tunai... bagaimana saksi?? sah...sah.. SAH. Alhamdulillah.

Sangat jelas kalimat yang diucapkan penghulu dan kemudian diulangi oleh Rio dengan tegas. Detik itu menjadi saat terakhir bagi kesendirian gadis malang itu. Ia kini sah menjadi istri Rio, tumpahlah tangisannya yang susah payah ia redam. Air matanya tumpah ketika bibir Rio menyentuh keningnya. Semua orang yang berada di sana merasa senang dan menunjukan senyum terindahnya. Berdirilah Dian dari duduknya lalu mendekati dan tersungkur dipangkuan Bu Idawati yaitu ibunda Rio yang juga menangis terharu. Keduanya saling peluk, kemudian ia kembali menangis ketika melihat senyum pak Daman mertua yang sangat memperhatikannya selama ini. Paman Dino pun terlihat haru ketika Dian mendekatinya dengan linangan airmata. Paman tak kuasa menahan airmatanya karena kebahagiaan keponakan yang telah ia rawat sejak kecil itu bercampur rasa syukurnya dimana keadaan seluruh keluarganya kini telah berubah.
Keharuan mereda ketika Cinta mendekati Didan dan mengajaknya bercanda dengan memanggilnya dengan sebutan mantan anak malang. Ia peluk sahabatnya itu, ucapan terimakasih serta syukur tak hentinya keluar dari bibirnya. Tuhan Maha Mengerti Ia cintai aku tak terhingga lipatnya dibanding cinta manusia sedunia ini kepadanya.
Ya Allah terimakasih untuk semua yang telah engkau berikan.

Selesailah acara akad nikah yang berlangsung haru dan penuh hikmah. Semua mulai kembali dengan kesibukan masing-masing dimana sore harinya akan dilangsungkan acara resepsi pernikahan disebuah gedung yang tidak begitu jauh dari rumah Rio yang kini juga menjadi rumah milik Dian. Terlihat kesibukan masing-masing yang ingin acara itu meriah dan berkesan bagi semua undangan yang hadir nantinya. Dian keluar dari kamar setelah ia melepaskan keharuannya, terlihat seperti ada yang ia cari. Lalu dengan penuh kebingungan Cinta bertanya apa yang dicari sahabatnya itu. Rupanya Dian mencari kedua sahabatnya yang sejak pagi belum sempat ia temui, yaitu Vino dan Candra. Dian dan Cinta menuju beranda rumah disana ia melihat Vino bersama anak dan istrinya. Namun ia tidak menemukan Candra di sana. Dian sangat kecewa dimana orang yang juga mencintainya tidak melihat kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ingin sekali memperlihatkan kebahagiaannya hari itu dengan sahabat Kecilnya yaitu Candra meski tidak mungkin memberikan jiwa dan raganya untuk menjadi miliknya. Tidak lama kemudian Candra muncul dari balik pagar mendatangi mereka yang sedang duduk menantinya kembali. Sebenarnya ia sudah berada dari pagi dirumah itu namun orang sepertinya tidaklah betah berada di dalam rumah apa lagi dalam suasana ramai seperti tadi pagi. Terlihat keceriaan diwajah Candra, sapaan yang begitu hangat ia layangkan untuk mereka yang juga membalas sapaan dengan wajah yang lebih gembira lagi karena melihat sahabat mereka akhirnya bisa tersenyum lepas seperti yang mereka saksikan siang itu.

Dua minggu lamanya sepasang suami istri yang berbahagia itu menghabiskan waktu di pulau impian. Di pulau ini mereka melepas segala kegundahan, keraguan dan kerinduan dan benar-benar menjadi satu dalam subuah cerita dimana terdapat lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Tak terhitung berapa banyak judul lagu yang mereka nyanyikan bersama serta berapa syair yang Rio bisikan di telinga istrinya. Lagu serta syair itu menjadi sebuah pendahuluan bagi kisah yang akan mereka jalani sampai nanti.

Pesawat yang mereka tumpangi telah bersandar di tempat dimana dua minggu lalu tempat itu yang mengatar mereka ke alam mimpi. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah taksi yang telah siap mengantar kembali menuju rumah bahagia.

Keceriaan menghiasi wajah supir taksi yang turut bahagia menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru. Selama dalam perjalanan menuju rumah terdengar sanjungan-sanjungan keluar dari kedua pasangan itu. Tiba-tiba jeritan sangat keras membuat Rio dan Dian terkejut, Dian merasa tubuhnya sangat lemah tak berdaya ia berusaha meraih dan menggenggam tangan suaminya. Ketika tangannya berhasil meraih tangan Rio dan menggenggamnya erat terlihat bahwa Dian sangat mengawatirkannya. Semua menghitam dan Dian menuju ke alam bawah sadarnya. Taksi yang mereka tumpangi menabrak truk besar ketika melewati sebuah tikungan tajam.

Dian berusaha keluar dari alam mimpi. Ketika tersadar ia melihat orang-orang terdekatnya telah berda di sana. Mengetahui Dian telah terbangun maka Paman Dino, Pak Daman, Idawati, Cinta, Vino dan Candra segera mendekati Dian dengan maksud memberi semangat untuk tetap bertahan. Dian memandangi mereka satu persatu sepertinya ada yang sedang ia cari. Merasa ada yang kurang dengan kekhawatiran ia menanyakan keadaan suaminya yang ia harap tidak terjadi apa-apa. Tak sepatah katapun yang keluar dari keenam orang itu. Dian mulai meneteskan airmatanya setelah memahami jawaban yang ia rangkum dari airmata keenam orang yang ia sayangi itu.

Dian merasa tubuhnya semakin tak berdaya dan dingin menerpa. Diiringi derai airmata yang seakan berlomba ia memaksa lidahnya untuk melantunkan senuah puisi yang berasal dari hati dan belum sempat ia bisikan di telinga suami yang sangat ia cintai.


Demi Tuhan

Jiwaku bergemuruh

Tak bisa kuhapus engkau

Tak akan kutinggalkan kisahmu

Kuabaikan nafasku

Bagimu

Demi Tuhan

Aku rendah

Lemah

Namun tak goyah

Tiada lupa

Dan selalu ada rasa

Demi Tuhan

Bagi engkau dan jiwaku



Diakhir puisi ia teteskan airmata yang terakhir lalu Dian tersenyum manis sekali. Ia pejamkan mata dan tertidur lelap untuk selamanya.


Thengkyu....