Senin, 24 Mei 2010

DARAH JUANG (Ruci Kudo Jogja, 24 Mei 2010)

Setiap perjuang tentulah memiliki tujuan diantaranya yaitu menginginkan sebuah hasil yang memuaskan, minimal memenuhi target dan apabila melebihi target awal merupakan sebuah bonus atau hadiah yang kita terima. Dalam kehidupan ini suatu perjuangan bisa kukatakan sama seperti perjudian sebab kita tidak mengetahui bagaimana dan sebesar apa hasil yang akan kita peroleh, kita hanya bisa berusaha sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam perjuangan itu. Banyak kisah telah saya dengar atau saya baca yang menceritakan sebuah perjuangan, cerita-cerita itu merupakan kisah yang berakhir dengan bahagia. Kisah ini bisa menjadi sebuah hiburan dan sebagai motivasi bagi penikmat cerita tersebut.

Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang perjuangan yang diakhiri dengan kebahagiaan.

Kisah ini saya tulis untuk diri saya sendiri.


Menangisi Buah Mangga.

Aku adalah seorang anak kecil yang bisa dikatakan masih lugu dan bodoh. Usiaku pada waktu itu baru sepuluh tahun. Disuatu sore sepulang dari sekolah aku melihat seorang anak laki-laki seumuran denganku sedang bersama keempat temannya berjalan menuju sebuah toko di seberang jalan tempatku memperhatikan mereka. Kelima anak tersebut terlihat begitu ceria dengan langkah serentak menuju toko yang ternyata toko tersebut adalah toko buah. Tidak lama kumudian mereka kembali terlihat setelah beberapa menit pintu kaca dan susunan buah-buah menghalangi pandanganku. Terlihat seorang dari mereka membawa sebuah keranjang yang tentunya berisi buah yang mereka beli dari toko itu.

Timbul rasa iri melihat mereka. Karena aku takut timbul niat yang tidak baik terhadap mereka aku melangkahkan kakiku melanjutkan perjalananku menuju rumah.

Sesampainya di rumah pikiranku masih saja teringat tentang kelima anak tadi. Sepertinya aku sangat ingin merasakan seperti apa rasanya buah. Maklum rumahku tidak memiliki halaman yang cukup untuk menanam buah-buahan. Keluarlah aku dari rumah lalu berdiri di depan pintu terlihat sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan masjid. Terlintas dalam pikiranku untuk menanam pohon mangga di halaman rumahku yang sangatlah sempit. Setelah kuperkirakan ternyata cukup untuk menanam pohon mangga walau hanya satu pohon. Pergilah aku menemui ibuku yang sedang memasak di dapur. Lalu aku bertanya kepada ibu mengenai pohon mangga mulai dari cara menanam, perawatan, berapa lama tubuhnya serta bagaimana rasa buah mangga itu sendri. Ibuku tersenyum dan menjelaskan dengan lengkap dan semua yang ibu katakan bisa kuterima dan kuingat-ingat. Tanpa menunggu lama aku bergegas mencari bibit mangga untuk kutanam di rumahku. Aku berkeliling desa berjalan dari rumah ke rumah sambil memperhatikan pohon mangga yang aku temui di sepanjang jalan. Banyak sekali pohon mangga yang kutemui dan semua sama saja. Setelah kupikir-pikir kalau ada tempat kumeminta bibit mangga yang dekat dari rumah kenapa harus susah payah keliling desa. Saat aku sedang memperhatikan pohon mangga di halaman masjid yang berada tidak begitu jauh dari rumahku ibu bertanya apakah sudah mandapatkan pohon mangga yang akan aku tanam dihalaman rumah. sudah bu, pohon mangga yang di depan masjid itu, jawab ku. Ibu bertanya lagi bagaimana dengan pohon mangga yang sudah kamu lihat di rumah tetangga kita. Apa tidak ada yang baik. Bukan begitu bu, tegasku. Pohon mangga yang kutemui semua baik, jenisnya pun sama saja. Aku hanya ingin meminta bibit dari pohon yang ada di depan masjid, selain tempatnya tidak jauh aku juga tahu sejarah pohon itu. Bahkan tinggi kami pernah sama. Lalu ibu menutup perbincangan kami dengan sebuah pesan “Jangan lupa meminta terlebih dahulu kepada pemiliknya sebelum kau tanam di rumah kita dan yang penting lagi kau rawat apa yang telah kau tanam jangan hanya bisa merasakan buahnya saja”.

Keesokan harinya aku menemui penjaga masjid lalu meminta izin ingin mencangkok bibit mangga. Setelah mendapatkan izin lalu kucangkok dan menunggu bibit itu layak tanam. Setiap hari selalu kulihat perkembangan bibit manggaku kuperhatikan pertumbuhan akarnya untuk mengetahui apakah sudah bisa ditaman atau belum. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil cangkokan yang baik. Akhirnya waktu penanaman pun tiba. Aku senang sekali karena akhirnya aku memiliki pohon mangga di halanaman rumahku sendiri. Sudah mulai kubayangkan bagaimana rasanya memetik, mengupas kulitnya dan merasakan manisnya mangga itu. Namun meskipun butuh beberapa tahun lagi aku pasti bersabar, begitu hatiku berkata. Aku berpesan kepada ibu, jika saya lupa merawat pohon mangga kita tolong dingatkan atau jika saya tidak pulang tolong ibu jaga. Ibuku senang melihat anaknya ingin sekali memiliki pohon buah yang kutanam dengan tanganku sendiri atas arahan ibu.

Umurku bertambah begitu pula dengan pohon mangga di halaman rumah kami sudah menginggi. Kini pohon mangga itu lebih tinggi dariku bahkan hampir tiga kali lipat. Daun-daunya kini rimbun bisa untuk tempat aku dan ibu berteduh saat panas terik. Aku suka sekali berteduh di bawahnya sambil mendengar nasehat ibu. Ukuran pohon dan rantingnyapun sudah besar dan kuat bisa kujadikan tempat mengikat tali jemuran ibuku. Aku ingin sekali mengupaskan ibu buah dari pohon itu jika nanti sudah mulai berbuah.

Rumahku semakin rimbun pohon manggaku kini lebih tinggi dari atap rumahku. Sebentar lagi pohonku berbuah, kesabaranku benar-benar diuji saat ini sampai-sampai terbawa kedalam mimpi.

Rumahku terlalu sempit dan tidak sanggup menampung seluruh diameter pohon mangga itu.
Sebagian cabangnya menjulur kehalaman rumah tetangga. Dengan demikian maka mangga yang buahnya tumbuh diatas halaman sebelah adalah hak tetanggaku, begitu menurut hukum dalam Agamaku. Dengan demikian maka tidak semua buah dari pohon mangga itu bisa kami panen. Ibu bilang, Tidak masalah bagi kita untuk hal itu. Agama adalah tuntunan kita, lagi pula mana mungkin buah sebanyak itu bisa kita habisan semua bisa pecahlah perut kita dan cepat bosanlah kita. Yang tersisa di halaman rumah kita, ibu rasa cukup sebagai imbalan kesabaran dan ketelitianmu selama ini bahkan lebih dari cukup. Tetangga pun bisa kau ajak untuk merasakannya. Ibu benar lagi.

Buah mangga yang sudah sebesar kepalan orang dewasa sebentar lagi sudah bisa dipanen. Ketika kutinggalkan rumahku aku tidak lupa selalu berpesan kepada ibu agar menjaga buah mangga yang tersisa. Sebagian buahnya telah nampak menguning itu tandanya kami akan segera merasakan nikmatnya buah mangga. Akan kukupaskan ibu untuk buah yang pertama kupetik nantinya.

Buah manggaku berkurang bahkan tidak tersisa sama sekali. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan rumahku pagi itu, buah mangga yang kunanti bertahun-tahun tak satu pun tersisa. Mungkin musang atau tupai yang memanennya semalam ketika aku tertidur pulas. Tupai atau musang kalian sangat mengerti aku, kalian hadiahi aku mimpi bahagia agar aku susah terbangun lalu kau ambil buah manggaku dan tanpa ada hati kau tebang pula pohonnya. Secepat itukah mereka merebutnya. Tadinya, hari ini aku dan ibuku memanen buah mangga kami. Semua harapan dan impianku hilang sekejab. Apa yang semestinya kulakukan sekarang. Apakah aku harus membeli buah mangga di toko buah untuk menghilangkan rasa penasaranku juga untuk megobati kekesalanku atau kutunggu pohon manggaku kembali bertunas, tumbuh dan berbuah. Apakah kuruncingi saja pangkal pohon mangga itu lalu kuhantamkan perutku keujungnya, atau bagaimana?.

Hidup Itu Pilihan

"Ruci menggumam: Apa iya rambutku akan panjang menjuntai menyentuh tanah, jika benar akan kupacu waktu menjemput masa itu. Kupercaya bahwa waktu itu sangatlah singkat, akan ku isi dengan sedikit khayalan aku pasti lupa pada kenyataan yang tak pernah memberiku hadiah. Senja yang jingga hanya dongeng dalam hidupku. Sejuknya embun pagi hanya bertahan hingga matahari baru sejengkal meninggalkan cakrawala timur. Sedangkan siang bolong tak sedikitpun mengajarkanku tentang perjuangan yang menghasilkan. Rambutku kini sepundak, itu berarti aku memiliki sedikit mental untuk menghadapi kutu kutu di kepalaku ketika malam hari yang begitu ramah mengajakku berpetualang didalam lingkaran mimpi. Malam ini akan kumulai cerita dengan hati sedikit dongkol berharap menjadi jernih atau semakin keruh. Semoga selamat sampai tujuan"

Aku dan Anisa di Taman Bunga (Ruci Kudo, Sekretariat Lambar Jogja, 14 Mei 10)

Sayang, engkau lihat bunga itu
Kasihan sekali wahai bunga
Duri durinya mengering tak lagi runcing
Tangkai dan daun daun layu berdebu
Apakah sebab bosan ia dilukai kumbang yang secara bergantian mengencinginya
Apakah sebab ia tak lagi peduli dengan para kumbang yang tak memiliki hati
Ataukah musim menghindar sebab enggan memanjakannya

Anisa sayang, engkau tahu bunga itu bunga kesayanganku
Kudapat dari puncak semeru
Sebagai tanda kelahiranmu
Disuatu senja lima tahun lalu
Ketika itu senja mampertontonkan jingga yang sempurna
Ketika itu pula kusebut namamu tiga kali
Anisa Anisa Anisa
Kubungkus dengan doa untuk pertumbuhanmu dan bunga semeru

Nis, bunga semeru itu milikmu
Jangan biarkan layu
Jangan biarkan berdebu
Jangan pernah engkau rela kumbang belang menghinggapinya
Jika kau tak ingin air mataku mengucap pilu

Anisa kekasihku,
Bunga semeru itu tumbuh cantik sepertimu
Sama seperti kesetiaanmu
Sama seperti kelembutanmu
Melebihi rasa kagumku kepada bunga menjelang mekar dimusim semi

Anisa, engkaulah kebangganku
Kelahiranmu anugrah hidupku
Karenamu kucintai pula bunga yang kau jaga dengan hati
Dengan ketulusan dan keikhlasan

Anisa, aku mencintaimu
Tumbuhlah bersama bunga semeru
Di taman bungaku.

Jumat, 26 Maret 2010

Disuatu Senja

Sedang menikmati senja di ujung sumatra.

Rasakan indahnya, sebelum ombak membawamu menjauh dari pulau itu, bersama malam melenyapkannya dari pandanganmu.

Jingga, biru, kelabu menyatu dalam senja. Sayangnya, tak nampak mentari yang perlahan kembali ke peraduannya.

Senja tak memberimu kesempurnaan, dengan maksud agar kau cepat kembali dan mencarinya.
Saat itu kalian bisa bertukar senyum tidak seperti kali ini.

Ketidaksempurnaan adalah sempurna. Sesempurna hitam yang menyapu jingga dengan cepatnya. kini, tinggal kelabu yg tersisa.

Kelabu itu rela berubah menjadi warna yang kau harapkan.
Ia jaga doa-doa yang dalam perjalanan menuju ketinggian.

Bisakah ia menjadi jingga yang selalu mengiringi kedatangan senja???

Bukan hanya itu, dengan bentuk yang ia miliki bahkan sanggup mengikuti putaran bumi yang selalu mendampingimu dengan berbagai warna. Tidak ketika senja saja.

Namun aku ingin selalu melihat senja bersama jingganya saat mataku terjaga.

Setiap kali muncul kerinduan kepada malam, senja itu siap menjemputmu dengan kencananya. Maka jangan pernah takut senja tidak kembali membawa harapan.
Hanya butuh hati untuk melihatnya.

Larut

Ya Allah, dia belum juga tidur, masih bertahan di malam yang semakin larut ini. 


Malam tak pernah larut, ia mengalir hingga pagi menggantikan warnanya.


Namun pagi itu masih jauh.
Apa yang kita lakukan untuk mengisi aliran malam yang semakin hitam ini. 
Jika kau sudi menyanyilah untukku untuk dirimu.


Keluarlah dari persembunyianmu lalu mendongaklah. Mereka sedang asik bercengkrama, berbincang dan berdiskusi tentang hidup dan hati.


Wahai malam hangatkan lah mereka yang menjaganya.
Sebab aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan dari dalam hitam
belum sanggup jiwa untuk keluar dari sini. Ya dari tubuh lemahku
namun mataku tetap kearah sana.


Sunyi membisikkan sesuatu padaku., sebuah pesan singkat dari si penyapa dalam hitam.


Jika pesan itu membuat hati terangkai dengan bunga-bunga
secepatnya kau sebut namanya lalu kau sapa ia dengan senyuman.
Cukup itu, bahagialah seluruh penghuni malam
termasuk bintang dan bulan meski mereka tertutup oleh awan.
jauh disana.



Harapan Ini

Rasa ini menua
Kekasih hadir dari lembah mimpi sang pagi
Semakin tinggi ia menerbangkan angan

Judul syairku tiada tentu tiada batas
Karena bangga mengenal cinta
Membentuk hati
Sampai nanti dipagi terakhir bagiku

Harapan hidupku
Aku bisa merangkai tawamu, selalu
Pada wajah serta jiwa menjadi damba

Kusapa kau secepatnya
Sebelum pagi terakhirku tiba
Lalu ia meraih tanganku
Menjadikan cerita ini berbeda
Mengembalikan jumlah semula
Atau sebaliknya
Jumlah bertambah

Lebih dari kita

Airmata dan Senyum Terakhir (Dian)

"Saya nikahkan Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat Shalat dibayar tunai..."
Saya terima nikahnya Dian Layla bin Romadi dengan emas kawin seperengkat alat shalat dibayar tunai... bagaimana saksi?? sah...sah.. SAH. Alhamdulillah.

Sangat jelas kalimat yang diucapkan penghulu dan kemudian diulangi oleh Rio dengan tegas. Detik itu menjadi saat terakhir bagi kesendirian gadis malang itu. Ia kini sah menjadi istri Rio, tumpahlah tangisannya yang susah payah ia redam. Air matanya tumpah ketika bibir Rio menyentuh keningnya. Semua orang yang berada di sana merasa senang dan menunjukan senyum terindahnya. Berdirilah Dian dari duduknya lalu mendekati dan tersungkur dipangkuan Bu Idawati yaitu ibunda Rio yang juga menangis terharu. Keduanya saling peluk, kemudian ia kembali menangis ketika melihat senyum pak Daman mertua yang sangat memperhatikannya selama ini. Paman Dino pun terlihat haru ketika Dian mendekatinya dengan linangan airmata. Paman tak kuasa menahan airmatanya karena kebahagiaan keponakan yang telah ia rawat sejak kecil itu bercampur rasa syukurnya dimana keadaan seluruh keluarganya kini telah berubah.
Keharuan mereda ketika Cinta mendekati Didan dan mengajaknya bercanda dengan memanggilnya dengan sebutan mantan anak malang. Ia peluk sahabatnya itu, ucapan terimakasih serta syukur tak hentinya keluar dari bibirnya. Tuhan Maha Mengerti Ia cintai aku tak terhingga lipatnya dibanding cinta manusia sedunia ini kepadanya.
Ya Allah terimakasih untuk semua yang telah engkau berikan.

Selesailah acara akad nikah yang berlangsung haru dan penuh hikmah. Semua mulai kembali dengan kesibukan masing-masing dimana sore harinya akan dilangsungkan acara resepsi pernikahan disebuah gedung yang tidak begitu jauh dari rumah Rio yang kini juga menjadi rumah milik Dian. Terlihat kesibukan masing-masing yang ingin acara itu meriah dan berkesan bagi semua undangan yang hadir nantinya. Dian keluar dari kamar setelah ia melepaskan keharuannya, terlihat seperti ada yang ia cari. Lalu dengan penuh kebingungan Cinta bertanya apa yang dicari sahabatnya itu. Rupanya Dian mencari kedua sahabatnya yang sejak pagi belum sempat ia temui, yaitu Vino dan Candra. Dian dan Cinta menuju beranda rumah disana ia melihat Vino bersama anak dan istrinya. Namun ia tidak menemukan Candra di sana. Dian sangat kecewa dimana orang yang juga mencintainya tidak melihat kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ingin sekali memperlihatkan kebahagiaannya hari itu dengan sahabat Kecilnya yaitu Candra meski tidak mungkin memberikan jiwa dan raganya untuk menjadi miliknya. Tidak lama kemudian Candra muncul dari balik pagar mendatangi mereka yang sedang duduk menantinya kembali. Sebenarnya ia sudah berada dari pagi dirumah itu namun orang sepertinya tidaklah betah berada di dalam rumah apa lagi dalam suasana ramai seperti tadi pagi. Terlihat keceriaan diwajah Candra, sapaan yang begitu hangat ia layangkan untuk mereka yang juga membalas sapaan dengan wajah yang lebih gembira lagi karena melihat sahabat mereka akhirnya bisa tersenyum lepas seperti yang mereka saksikan siang itu.

Dua minggu lamanya sepasang suami istri yang berbahagia itu menghabiskan waktu di pulau impian. Di pulau ini mereka melepas segala kegundahan, keraguan dan kerinduan dan benar-benar menjadi satu dalam subuah cerita dimana terdapat lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Tak terhitung berapa banyak judul lagu yang mereka nyanyikan bersama serta berapa syair yang Rio bisikan di telinga istrinya. Lagu serta syair itu menjadi sebuah pendahuluan bagi kisah yang akan mereka jalani sampai nanti.

Pesawat yang mereka tumpangi telah bersandar di tempat dimana dua minggu lalu tempat itu yang mengatar mereka ke alam mimpi. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah taksi yang telah siap mengantar kembali menuju rumah bahagia.

Keceriaan menghiasi wajah supir taksi yang turut bahagia menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru. Selama dalam perjalanan menuju rumah terdengar sanjungan-sanjungan keluar dari kedua pasangan itu. Tiba-tiba jeritan sangat keras membuat Rio dan Dian terkejut, Dian merasa tubuhnya sangat lemah tak berdaya ia berusaha meraih dan menggenggam tangan suaminya. Ketika tangannya berhasil meraih tangan Rio dan menggenggamnya erat terlihat bahwa Dian sangat mengawatirkannya. Semua menghitam dan Dian menuju ke alam bawah sadarnya. Taksi yang mereka tumpangi menabrak truk besar ketika melewati sebuah tikungan tajam.

Dian berusaha keluar dari alam mimpi. Ketika tersadar ia melihat orang-orang terdekatnya telah berda di sana. Mengetahui Dian telah terbangun maka Paman Dino, Pak Daman, Idawati, Cinta, Vino dan Candra segera mendekati Dian dengan maksud memberi semangat untuk tetap bertahan. Dian memandangi mereka satu persatu sepertinya ada yang sedang ia cari. Merasa ada yang kurang dengan kekhawatiran ia menanyakan keadaan suaminya yang ia harap tidak terjadi apa-apa. Tak sepatah katapun yang keluar dari keenam orang itu. Dian mulai meneteskan airmatanya setelah memahami jawaban yang ia rangkum dari airmata keenam orang yang ia sayangi itu.

Dian merasa tubuhnya semakin tak berdaya dan dingin menerpa. Diiringi derai airmata yang seakan berlomba ia memaksa lidahnya untuk melantunkan senuah puisi yang berasal dari hati dan belum sempat ia bisikan di telinga suami yang sangat ia cintai.


Demi Tuhan

Jiwaku bergemuruh

Tak bisa kuhapus engkau

Tak akan kutinggalkan kisahmu

Kuabaikan nafasku

Bagimu

Demi Tuhan

Aku rendah

Lemah

Namun tak goyah

Tiada lupa

Dan selalu ada rasa

Demi Tuhan

Bagi engkau dan jiwaku



Diakhir puisi ia teteskan airmata yang terakhir lalu Dian tersenyum manis sekali. Ia pejamkan mata dan tertidur lelap untuk selamanya.


Thengkyu....

Kamis, 11 Maret 2010

Dian Menangis

Dian mana panggilan seorang gadis yang berasal dari barat. Dia adalah seorang anak yang begitu ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Disuatu sore Dian dan dua orang kawannya bermain boneka diteras rumah, mereka terlihat begitu senang dengan boneka baru milik Dian pemberian pamannya yang baru saja pulang dari bekerja. Paman Dino, panggilan yang terdengar akrab di komplek itu. Paman Dino adalah seorang pekerja pasar yang sehari-hari berjualan sepatu bekas. Pamanlah merawat Dian sejak ia berumur tiga tahun yang kemudian menyekolahkannya. Saat ini ia berumur 10 tahun dan sampai hari ini mereka masih bisa bertahan dengan penghasilan paman yang tidak menentu. Kedua orang tua Dian menitipkannya dengan paman sebab keduanya harus pergi ke timur karena pindah tugas.

Tidak lama kemudian datanglah seorang anak laki-laki yang sepertinya kurang akrab dengan mereka. Dodi nama anak tersebut, seorang anak yang bandel, nakal dan suka sekali mengganggu anak-anak lain. Dengan waswas Dian dan kedua temannya itu memandang Dodi dengan penuh harapan tidak akan terjadi sesuatu yang bisa merubah suasanan sore itu. Dodi menuju teras rumah lalu mendekati ketiganya, mereka semakin takut. Dian berdiri dari duduknya lalu bertanya kepada Dodi apa yang akan ia lakukan terhadap mereka. Dodi tiba-tiba lari, karena melihat paman Dino telah pulang dari pasar. Dian dan kedua temannya terselamatkan dari kekejaman Dodi sore itu.

Paman Dino berumur 28 tahun dan belum menikah, ia merasa belum sanggup menduakan kasih sayangnya terhadap keponakannya itu. Ia menganggap Dian sebagai anaknya sendiri. Dian kini duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, ia begitu cerdas dari awal masuk di sekolahnya Dian tidak pernah melepas gelar juara yang selalu ia raih. Oleh karena itu terkadang biaya sekolah Dian dibantu oleh pihak sekolah sehingga ia masih bisa menuntut ilmu sampai sekarang. Prestasi yang diraihnya bukan hanya dari palajaran di sekolah namun dari berbagai lomba yang ia ikuti mulai dari tingkat sekolah sampai ditingkat kabupaten. Dian beruntung dengan anugrah Tuhan yang memberinya suara yang merdu dan berkarakter. Dari semua perlombaan menyanyi yang ia ikuti seringkali membawanya menjadi seorang juara. Dari situlah nama Dian mulai dikenal orang banyak.

Dian mulai beranjak remaja, usia yang menginjak 17 tahun tentu saja tidak bisa dikatankan sebagai anak kecil lagi. Dian tinggal bersama paman dino dan seorang wanita yang dinikahi pamannya empat bulan lalu, mereka kini menempati sebuah kontrakan kecil yang didapat dari berbagai prestasi Dian dalam bernyanyi. Meskipun telah menikah namun kasih sayang paman dino kepadanya tidak berkurang sedikitpun, bahkan ia sangat bahagia karena bertambah satu orang yang menyayanginya. Tiga bulan lagi ia akan menghadapi ujian kelulusan yang menentukan nasibnya selama bersekolah di SMA yang tidak begitu jauh dari kontrakan baru itu. Olah karena itu kini ia mulai lebih berkonsentrasi kepala sekolahnya dibanding kariernya yang menjadi seorang vokalis sebuah Band yang dibentuk bersama teman-teman sekolahnya.

Ujian pun berakhir, kini Dian sedikit lebih tenang walau masih merasa waswas menunggu hasil ujian yang akan ia terima beberapa minggu kedepan. Setiap hari ia pergi kapasar membantu pamannya berjualan, dari pagi sampai sore dan malam harinya ia sempatkan untuk latihan bersama grub bandnya. Beberapa hari ini latihan band diadakan setiap hari mengingat tidak lama lagi Dian dan kawan-kawan akan mengikuti sebuah Festival band yang diadakan setahun sekali. Festival tersebut menyaring band-band terbaik yang kemudian akan diakngkat menjadi band papan atas dinegeri ini. Oleh sebab itu Dian, Candra, Vino, Cinta dan Fajar terus berlatih dengan harapan mereka bisa menjadi yang terbaik Festival yang akan mereka ikuti.

Dengan semangat empat-lima mereka menuju gedung serba guna milik Pemerintah Kabupaten, dimana gedung itu yang digunakan sebagai tempat dilaksanakannya Festival band. DFCV nama band yang digawangi oleh Dian sebagai Vokal, Candra pada Gitar, Cinta sebagai pianis, Vino memegang bass dan Fajar sebagai penabuh Drum. Karena mendaftar pada waktu pendaftaran hampir selesai mereka mendapat giliran paling trakhir. Seluruh band yang mengikuti ajang tersebut berjumlah lima belas band. karenanya mereka harus rela menunggu lama untuk menampilkan kebolehannya dalam bermusik. Setelah menunggu selama dua jam lebih akhirnya tiba giliran DFCV untuk tampil.

Pengalaman pertama bagi mereka mengikuti ajang besar dimana sebelumnya hanya terbiasa manggung disekolah dan mengisi acara dikelurahan. Mungkin ini adalah pengalaman paling berharga bagi band itu.
Setelah menunggu beberapa hari tibalah saatnya pengumuman band apa saja yang berhasil menembus tiga besar. Dari hasil penilaian juri dan dukungan terbanyak dari penonton yang hadir dalam Festival tersebut Dian dan teman-temannya hanya bertengger di peringkat kedua, namun hasil itu tidak membuat mereka murung melainkan menjadi anugrah yang teramat sangat bagi mereka. Hari itu menjadi hari paling bahagia bagi kelima personil DFCV dimana selain prestasi yang mereka raih melaui musik, seluruh dari mereka menerima hasil ujian yang begitu memuaskan. Lepaslah setatus sebagai siswa kini mereka siap untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Sepulangnya dari sekolah Dian tidak langsung pulang ke rumah melainkan menuju pasar. Ia ingin memberitahukan kabar gembiran ini kepada paman Dino. Dengan rasa bangga bercampur haru paman memeluk Dian dan mengucapkan selamat atas keberhasilannya sampai tahap ini. Dengan penuh harapan pamannya sangat ingin ia melanjutkan pendidikankan kejenjang yang lebih tinggi namun ia merasa ragu apakah ia bisa melanjutkan pendidikan dengan keadaan yang seperti ini. Dalam pikirannya ia ingin membantu pamannya dipasar untuk sementara waktu sampai keadaan membaik sambari menunggu nasib bandnya yang pernah dijanjikan menjadi band yang besar. Harapan itu yang ia andalkan untuk menentukan masa depannya. Dari hasil manggung sana-sini yang ia gunakan untuk membantu ekonomi keluarganya. Memang sulit jika ia hanya mengandalkan penghasilan dari band dimana saat ini begitu banyak grub band yang menjamur di negeri ini. Yang ia takutkan bukan persaingan kualitas, namun dijaman sekarang semua bisa saja asal ada uang, sedangkan ia tak memilki itu. Band yang berawal dari alat sekolah itu hanya mengandalkan karya, tidak ada yang lain apa lagi uang. Seluruh personilnya berasal dari kalangan bawah yang menjadikan musik sebagai seni yang benar-benar berseni dan menjadi kepuasan hati.

Setelah menunggu dan menunggu belum juga ada kabar dari pihak penyelenggara dimana sebelumnya akan dijanjikan adanya fasilitas untuk menjadi band besar bagi mereka yang terhitung dalam festival yang diadakan sepuluh bulan yang lalu. Sebentar lagi pendaftaran mahasiswa baru akan dibuka sedangkan nasib Dian belum juga berubah. Sepertinya mimpi Dian untuk bersekolah kembali tertunda.

Sebuah keajaiban yang telah lama dinantikan. Seorang laki-laki muncul dari ujung jalan menuju rumah Dian. Ketika itu dian tidak berada di rumah, namun seharusnya dian sudah pulang dari pasar membantu pamannya berjualan tapi jam segini ia belum juga pulang. Laki-laki itu adalah seorang yang ditugaskan dari pihak manajemen yang berjanji mengangkat band yang sudah lama dinantikan dian dan teman-temannya. Laki-laki itu tidak lama berada di rumah dian, dia hanya menyampaikan bahwa dian dan teman-temannya diminta untuk datang ke kantor untuk menandatangani kontrak dan penentuan jadwal rekaman. Pesan bahagia itu dian terima ketika ia kembali ke rumah tidak lama setelah laki-laki itu meninggalkan rumahnya. Perasaan yang sangat senang di hatinya, ia langsung menuju rumah fajar yang tidak begitu jauh dari rumahnya untuk memberitahukan kabar baik untuk band mereka.

Jadwal rekaman pun telah mereka terima, mimpi yang selama ini menjadi motivasi bagi mereka akhirnya terwujud juga. Segala macam materi telah mereka siapkan, mulai dari lagu-lagu sampai dengan hal-hal yang bisa membuat karya mereka terangkat pun mereka lakukan. Di studio milik mereka sendiri mereka mencoba mengasah kemampuan agar lebih matang lagi.

Sehari sebelum band tersebut rekaman sesuatu terjadi pada salah satu personilnya. Nasib malang yang menimpa Fajar yang juga menjadi musibah bagi kelimanya. Sewaktu Fajar sedang di perjalanan menuju studio untuk latihan terakhir sebelum proses rekaman dimulai ia menjadi korban dari keganasan rel kereta api yang kemungkinan pristiwa tersebut terjadi ketika ia sedang menyebrang rel kereta dan tiba-tiba datang sebuah sepeda motor yang mebraknya dari belakang sehingga fajar terjatuh dan kepalanya membentur rel. Begitu tutur seorang saksimata yang pada saat kejadian berada di lokasi. Hari itu menjadi hari terakhir baginya. Ini merupakan pukulan keras bagi dian dan ketiga temannya. Kematian Fajar tentu saja menggagalkan band mereka sebab tidak mungkin jika salah satu personilnya harus diganti dalam waktu yang singkat. Dian dan ketiga temannya memutuskan untuk membubarkan band tersebut.

Butuh waktu lama bagi mereka melupakan kejadian itu terutama bagi Dian yang menggantungkan hidupnya pada nasib band dimana selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segala kemampuannya dan menjadi tempat ia mencurahkan apa yang ada didalam hatinya. Kini ia tidak lagi tinggal bersama pamannya ia sudah bekerja di sebuah mini market yang letaknya cukup jauh dari rumah paman dino. Dengan gaji yang ia miliki ia menyewa sebuah rumah kos sebagai tempat tinggalnya sekarang. Namun uang yang ia dapat dari hasil bekerja belum juga cukup ia gunakan untuk biaya melanjutkan pendidikannya. Sudah dua pulah dua tahun usia Dian saat ini, selayaknya ia memiliki seorang kawan laki-laki yang sepesial bagi. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, ia tidak pernah merasa minder atau merasa malu dengan cacian teman sepekerjaannya yang sering kali memanggilnya dengan sebutan gadis malang. Mungkin karena Dian tidak memiliki seorang pacar seperti remaja-remaja lain. Akan tetapi itu semua tidak pernah ia hiraukan. Dian tidak pernah merasa dilahirkan sebagai anak malang, apa yang Tuhan anugrahkan kepadanya sangatlah cukup baginya. Dengan suara yang merdu, tubuh tinggi semampai dan paras yang cantik juga manis. Ia hanya belum ingin menambah beban dalam pikirannya dengan memilki pacar, disamping itu pula banyak yang harus ia pikirkan salah satunya pendidikan tinggi yang harus ia capai dalam hidupnya.

Pekerjaan yang ia lakukan setiap hari kini mulai bisa ia jalani dengan senang dan sepenuh hati walau penghasilannya hanya bisa untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari tanpa ada sisa yang bisa ia sisihkan. Seorang pelanggan yang seringkali datang ke tempat kerjanya menawarkan pekerjaan yang lebih menjanjikan untuknya. Yaitu bekerja di sebuah perusahaan transportasi atau trevel yang gajinyapun dua kali lipat dari gajinya sekarang ini. Itu sempat menjadi pertimbangan baginya namun ia tidak mau mengambil keputusan dengan cepat sebab ia belum mengenal laki-laki itu. Laki-laki itu masih terlihat muda, usianya kira-kira dua puluh lima tahun. Dian belum mengerti maksud Rio nama pemuda tersebut yang tiba-tiba menawarkan pekerjaan itu. Sebelumnya setiap hari Rio datang ke mini market itu hanya untuk membeli rokok dan kali ini menawarkan pekerjaan kapadanya. Rio tidak kecewea dengan pertimbangan Dian sebab ia mengerti mangapa Dian belum bisa menerima perkerjaan yang ia tawarkan. Namun Rio tidak begitu saja membatalkan niat baiknya itu yang sebenarnya datang dari dorongan perasaan sukanya kepada dian, setiap hari sengaja ia temui dengan alasan membeli sesuatu ditempat kerjanya.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendekati Dian. Dengan semangat yang ia milki ia terus berusaha untuk meyakinkan niat tulusnya itu. Sebelumnya ia merasa ragu apakah kepedulian ini akan sampai pada tujuan atau tidaknya karena ia mengenal Dian sebagai sosok yang begitu dingin. Mereka kini mulai terlihat semakin dekat, leyaplah panggilan anak malang yang sebelumnya disandangnya walau sebenarnya sampai saat ini mereka sekedar berteman. Dian merasa nyaman dan mulai percaya dengan Rio. Kini ia kembali mempertimbangkan permintaan teman barunya itu.

Satu tahun berakhir, setelah sebelumnya menjadi seorang pemandu wisata kini Dian diangkat sebagai sekretaris di kantor Pak Daman. Pak Daman adalah ayah Rio yang juga begitu memperhatikannya. Kebaikan keduanya membuat Dian lebih mensyukuri apa yang ia dapatkan selama ini. Dian menjadi pegawai kesayangan Bosnya karena pak Daman mengetahui bahwa Rio menyukai Dian sudah begitu lama. Ia sengat apresiasi terhadap perasaan yang anaknya milki, dukungan yang luar biasa di tunjukan seorang ayah kepada anaknya bahkan ia sangat menyetujui jika Dian menjadi menantunya kelak. Namun saat itu Rio belum juga menyelesaikan kuliahnya yang masih tersendat di ujung jalan. Ini menjadi motivasi khusus bagi Rio untuk segera menyelasikan pendidikannya dan menjadi seorang sarjana.

Secara tidak langsung Dian perlahan memahami perasaan Rio kepadanya dengan semua yang Rio berikan selama ini. Kebaikan dan perhatian yang ia terima tidak lagi sewajarnya. Ketika Dian berniat Mengunjungi Paman dan bibi, Rio dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarnya. Sikap Rio yang terlihat akrab dengan paman dan bibi semankin menyakinkan Dian bahwa ia telah menemukan seseorang yang bisa menemani hidupnya dan menjadikan Rio sebagai laki-laki pertama untuk mengisi hati Dian yang selama ini ia biarkan kosong tanpa penghuni. Ia hanya menunggu keberanian Ria ketika dimana Rio mengutaraka isi hati yang sebenarnya. Mungkin selama ini Rio tidak pernah membicarakan hal itu karena memang sikap yang Dian tunjukan tidak sedikitpun memberi peluang untuk berbicara masalah itu. Keadaan itu mulai disadarinya dan dian mulai merubah sikapnya menyesuaikan dengan perasaan yang juga ia miliki.

Saling mencintai, itu yang mereka tekankan selama ini untuk terus bersama. Tanpa ada kata jadi mereka sudah saling mengerti atas perasaan masing-masing dan menjalani hubungan lebih dari teman biasa. Hubungan ini nampak tidak lagi main-main, dengan segala pengertian dan perhatian yang sama-sama mereka tunjukan terhadap pasangannya dnegan tujuan menjadi sebuah hubungan yang akan bertemu di titik pernikahan. Tidak ada lagi keraguan diantara mereka, dengan pertimbangan sebelumnya kini Rio telah menyesaikan kuliahnya yang dua bulan lalu telah resmi menjadi seorang Sarjana. Walaupun kini ia masih bekerjan di perusahaan milik orang tuanya sendiri. Namun itu tidak menjadi masalah bagi Dian untuk benar-benar menerima Rio sebagai seorang suami yang akan menjadi panutan baginya dan seluruh keluarganya kelak.

Kabar gembira ini pun telah sampai di rumah paman Dino, keluarga dari pihak Dian sangat menyetujui hubungan mereka yang memang sudah lama tercium aroma asmara diantara keduanya sejak meraka pertama kali datang ke rumah paman Dino ketika itu Dian baru saja di terima bekerja pada orang tua Rio. Bukan lagi menjadi sebuah rahasia bahwa mereka telah menatapkan tanggal pernikahan yang jatuh pada tanggal 14 April yang masih tiga bulan kedepan. Kebahagiaan diantara mereka semakin terlihat seperti tidak ada lagi yang mampu memisahkan keduanya.

Segala persiapan telah mereka lakukan mulai dari cetak undangan serta sewa gedung yang nantinya akan digunakani untuk resepsi pernikahan. Seluruh teman serta kerabati Rio maupun Dian sudah mengetahui berita ini. Hari bahagia yang dinanti tinggal beberapa hari lagi seluruh hal yang dibutuhkan pun telah dipersiapkan dengan matang. Seorang gadis semumuran Dian yang terlihat sangat akrab dengannya selalu menemani Dian dan membantu apapun yang dilakukan oleh Dian. Gadis itu adalah Cinta teman SMA sekaligus teman satu band Ketika itu. Cinta kini bekerja sebagai wirausahawan, ia adalah teman terdekat Dian. Cinta sempatkan datang menemani Dian disaat menjelang hari bahagia bagi sahabatnya itu.

Ketika malam sempat menjadi tema pembicaraan diantara mereka tentang masa lalu yang menjadi kenangan paling berkesan walau cerita itu berakhir dengan kesedihan yang sulit mereka lupakan. Keceriaan dan kebersamaan yang tertuang di setiap baris cerita yang mereka ukir ketika masih bersamaa beberapa tahun silam menjadi kebanggaan tersendiri bagi kelima teman sejati itu. Kemudian apakah hanya kau yang hadir menyaksikan kebahagiaanku disaat hari pernikahanku nanti, ucap Dian dengan harapan kedua temannya yaitu Vino dan Candra pun hadir dalam acara pernikahannya yang tinggal tiga hari lagi. Kemudian dengan keharuan Cinta menanggapi perkataan sahabatnya itu. Dian, aku rasa mereka akan menyempatkan waktunya untuk menghadiri pernikahan sahabat mereka. Lagi pula undangan telah kau antar sendiri. Akan menjadi sebuah penyesalan jika mereka tidak menghadiri pernikahanmu. Kamu begitu peduli kepada kami semua, kamu begitu baik tidaklah mungkin aku akan melewatkan hari bahagiamu yang akan kau awali pada ihari itu. begitu pula dengan Vino dan Candra, mereka pasti berpikiran sama seerti aku. Jadi jangan kau pikirkan masalah itu. Dian merasa tenang mendengar ucapan Cinta yang begitu menyakinkan itu. Malam semakin larut dan kata selamat tidur mengakhiri perbincangan keduanya.

Kesibukan demi kesibukan terlihat di rumah Rio dimana akan dilangsungkan acara akad nikah besok pagi. Seluruh keluarga Dian telah tiba, terlihat paman Dino sedang berbincang-bincang dengan calon besannya. Terlihat pula kesibukan di sudut-sudut lain. Di sana terlihat Dua orang laki-laki seumuran Dian yaitu Vino yang sedang mengendong seorang anak dan seorang wanita duduk di sampingnya tentu saja itu adalah anak serta istrinya. Laki-laki yang satunya nampak bersama lamunannya, ia adalah candra. Candra kini menjadi seorang penulis dan sampai saat ini ia belum menikah. Candra yang dulu menjadi penulis lirik bagi lagu-lagu DFCV. Ia memang terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya. Kebiasaan yang suka melamun membuatnya terlihat seperti kurang waras dan berpenampilan semberaut. Sepulangnya dari pasar, Dian bersama Cinta menemui kedua sahabat mereka itu. Kebahagiaan bercampur haru menghiasi pertemuan itu yang hampir lima tahun tidak pernah berkumpul lagi. Apalagi dengan Candra, keberadaannya baru diketahui ketiga sahabatnya itu seminggu yang lalu. Yang sebelumnya menghilang entah kemana. Perbincangan yang hangat tercurah ketika itu, masing-masing menceritakan pengalaman hidup dan masalah pekerjaan. Kecuali Candra yang terlihat hanya membisu. Candra tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya siang itu, dimana ia bisa kembali bertemu dengan seseorang yang selama ini ia cari. Seseorang yang begitu ia kagumi dan ia sayangi sejak ia kecil. Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kekecewaan sebab ketika ia menemukan kembali pujaan hatinya, ia mengetahui bahwa gadis yang ia nanti selama ini akan menikah. Gadis itu adalah Dian.

Sejak mereka menjadi rekan seperjuangan ketika masih duduk dibangku SMA Candra sudah memendam perasaannya kepada Dian. Perasaan yang ia rasakan itu semakin kuat ketika mereka tergabung dalam DFCV dimana mereka bertemu setiap hari dan bagai benih- benih cinta menjadi setangkai bunga yang mekar namun tidak pernah ia nyatakan. Candra merasa itu mutlak kebodohan dirinya yang tidak mampu mengungkap apa yang sebenarnya ia rasakan yang kini terlambat sebab hanya dalam hitungan jam kekasih pujaannya itu telah menjadi milik orang lain. Yang harus ia lakukan saat ini adalah menyesali apa yang selama ini terjadi dan merelakan pujaan hatinya menjadi milik orang lain.

Dari awal Candra tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya duduk dan kadang tersenyum. Berbeda dengan ketiganya yang asik saling menceritakan kisah hidup masing-masing. Di tengah-tengah lamunannya Candra berpikir apa yang akan ia lakukan sekarang, apakah harus diam dan memendam perasaan ini selamanya menjadi ganjalan hati atau mengatakan semua yang ia rasakan sejak dulu kepada Dian. Namun jika kukatakan sekarang apakah akan merusak suasana hati kekasih pujaannya itu, sebuah pertanyaan yang memberatkan lidahnya untuk jujur mengenai perasaannya. Selang beberapa menit setelah ia tersadar dari lamunannya ia menarik tangan Dian dan mengajaknya keluar dari ruangan. Vino dan Cinta tidak menghiraukan sikap Candra sebab mereka tau dari dulu Candra memang seperti itu, mereka tetap saja asik berbincang. Duduklah Candra dan Dian di kursi panjang yang berada di bawah pohon besar yang tertanam di pojok halaman. Tanpa rasa ragu Candra menyatakan perasasnnya. Yang sebelumnya ia awali dengan harapan agar Dian sekedar mengetahui perasaan yang telah ia pendam selama ini. Ia hanya tidak ingin lagi ada yang mengganjal dihatinya, namun sebenarnya masih ada harapan hati yang menginginkan Dian menjadi miliknya. Walaupun ia tahu bahwa kecil kemungkinan untuk mendapatkan hati Dian yang selama ini memang belum mengetahui perasaan yang dimilki Candra terhadapanya. Dian sangat terkejut dan mulai bingung apa yang harus ia katakan kepada Candra. Dian hanya terdiam sembari menatap Candra dengan tatapan tajam. Beberapa menit sampat tak terdengar suara keluar dari mulut keduanya. Dan akhirnya Candra menyambung lagi pembicaraannya. Ia mengatakan semua itu bukan bermaksud untuk merusak suasana hati Dian namun agar Dian mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya yang ia rasakan dari dulu. Mendengar ucapan itu, Dian mulai menggapi ucapan Candra. Aku sungguh-sungguh tidak mengetahui apa yang kamu rasakan, dan mengapa tidak dari dulu kamu bilang yang sebenarnya. Sekarang semuanya sudah terlambat tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Candra terdiam dan mulai mengerti bahwa usahanya dengan mengatakan semuanya tidak mungkin menghasilkan apa-apa. Jika benar kamu sayang dengan aku, aku harap kamu datang besok saat aku sah menjadi istri Rio dan jangan sampai aku tidak melihatmu. Seandainya kamu tidak ada diantara kami aku tidak akan memaafkanmu atas dua kesalahanmu yang pertama mengapa tidak dari dulu kamu memeberi tau aku tentang pesaan itu dan yang kedua karena kamu tidak senang melihat aku bahagia. Kemudian Dian berdiri meninggalkan Candra dan kembali berkumpul dengan Cinta dan Vino.


Rabu, 10 Maret 2010

Berkawan Lagi Lewat Mimpi

#Alangkah menyenangkan bertaman denganmu malam ini teman.
Seluruh bintang menyaksikan kegembiraan kita, mereka bertepuk tangan untukmu.
Bulan melantunkan lagu-lagu rindu.
Ketika aku meninggalkanmu di kamar tidurmu setelah seharian kita berpetualang dalam kisah yang berjudul bahagia.

*Ya, Berpetualang dalam kisah canda tawa.
Seperti hijau. Aku biru dan kau kuning.

#Atau seperti pantai itu.
Ada ombak juga pasir, mereka saling sapa dan menjaga.

*Lantas, Apakah kini kita hanya bisa berandai-andai kawan.
Memikirkan banyak kisah lalu.

#Benar sekali.
Kisah itu sebagai goresan dari kenangan kita.
Sesungguhnya apa yang kita hadapi sekarang ini sebuah dilema yang membuat tubuh jungkir balik.
Sebab mimpi itu jaraknya berkilo-kilo meter dari sini.
Mimpi yang seharusnya menjadi jalan kita untuk kembali bermain bersama.

*Namun selayaknya kita tetap bersyukur.
Sebab kita masih memiliki mimpi sebagai ruang untuk kita.

@ Februari 2010

Waktu begitu cepat berlalu.Sudah dua bulan kurasakan bagaimana hidup di tahun 2010. Cerita ini kumulai ketika Februari mengajakku bertaruh. Semua sama penting dengan bagaimana aku menjalani bulan setelahnya demi sebuah hati yang mulai kini tidak lagi akan meminta janji kepada siapapun termasuk kamu.

Mimpi yang kudapat dari sebuah malam dibulan Februari menggambarkan bagaimana kelak aku akan menghadapi suatu ketika yang aku pun tidak mengenali diri sendiri demikian pula denganmu. Tapi entah kapan, bagaimana dan di mana itu akan terjadi. Keterbatasan malam tidak memberiku kesempatan untuk bertanya kepada penguasa mimpi tentang kelanjutan cerita yang ia tulis untuk jalan kehidupanku. Apakah bulan maret, april atau mungkin nanti dipenghujung tahun. Isi tubuh hanya terus berdoa untuk sesuatu yang terbaik dalam perjalanan yang tentunya adalah sebuah misteri.

Tidak ada lagi yang harus kita tanyakan kepada mereka kawan, bayanganku pun memberiku saran dan melarang untuk tidak lagi berhubungan dengan kanyataan. Ia meminta aku tetap tinggal di sini, di alam yang serba ada, semua tersedia dengan sendirinya dan tidak perlu membayar untuk itu semua. Alam ini menyenangkan bagi orang yang berpikiran seperti aku. Dalam hidup tidak mesti ada perjuangan, kepuasan dikesampingkan serta harga jasa itu tidak dibutuhkan. Sebab itu semua tidak ada dalam proses yang tercantum di langit-langit dunia yang kini kupijak. Di sini hanya butuh seseorang yang kreatif dan sedikit licik. Agar cerita serta gambar yang terkarang cukup meyakinkan aku pilih corak serta warna yang cocok sebagai bingkai cerita itu.

Aku benar-benar bersyukur bahwa umur dan napasku bisa tiba di ujung Februari. Dengan tubuh lengkap dan senyum sedikit mengembang aku berhasil menyembunyikan sebuah cerita hati. Cerita tersebut tak layak diungkap walaupun itu dalam bentuk dongeng. Cerita ini Penuh dengan wanra yang tak jelas, sebab jalan yang dilalui cerita nyata ini basah terguyur air mata.
Kenyataan ini memaksa aku memilih tiga hal tersulit bagiku yaitu di penggal, digantung atau ditembak. Ketiga hal tersebut harus kupilih salah satu dengan kata lain aku tidak bisa mnghindarinya. Tidak cukup dia membuat aku sengsara dengan memberiku pilihan gila itu, ia hadirkan lagi mimpi buruk ketika tidurku berada di puncak kepulasan. Ketika itu pula kenyataan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menawarkan jalan lain kepadaku yaitu menjatuhkan diri dari puncak khayalan, namun karena aku merasa adalah manusia yang memilki prinsif yang tidak mudah untuk merubah A menjadi B aku bertahan di alam mimpi, alam yang seringkali memberiku cerita yang luar biasa. Sudah kukatakan sebelumnya aku tidak akan lagi percaya denganmu kenyataan. Sudah berulangkali kau merebut senyuman yang baru saja mulai mengembang diwajahku ini. Bukan hanya itu yang kerap kau lakukan untuk menyiksaku, kau lemparkan telur busuk bercampur darah tepat mengenai kepalaku. Dan kau tau itu bertanda kau mengajakku bermusuhan. Aku katakan kebahagiaanku belum ada di dadamu di kenyataanmu.

Alam mimpi seperti sebuah ranjang hangat dengan sepuluh bidadari di atasnya sedang menungguku untuk bercinta. Ditambah seorang lagi dengan lembut melantunkan lagu mengantarku mengarungi cerita ini dengan beribu kegilaan. Lagu-lagu yang ia nyanyikan tak pernah ku dengar sebelumnya apa mungkin lagu-lagu itu karangnya sendiri atau karena mimpi itu miliknya sehingga mudah baginya merubah lirik lagu tersebut dan melantunkannya dengan sedikit adegan menangis sehingga aku terbuai olehnya. Meski semua mimpi yang kudapat di sebuah bulan yang suram ini membuat aku seperti terpotong tujuh bagian namun aku hargai mimpiku dengan sepenuh hati. kau bahagiakan aku dengan kebohonganmu, aku berterimakasih untuk semuanya. Mulai sekarang seluruh wajahku kupoles dengan warna hitam sebagai tanda aku berpihak padamu dan dengan senang hati melanjutkan mimpi-mimpi ini seorang diri.
Menjadi seorang pemimpi sejati.